"Dalam seratus, jarang seorang agaknya," jawab Samsu.
"Sebab hal itu sangat susahnya."
"Jika begitu apa sebabnya, maka masih banyak saja orang
yang mau bekerja di kantor polisi? Ada pula yang tiada dapat
gaji, walaupun ia harus berpakaian yang patut, datang ke tempat
pekerjaannya. Sesudah beberapa tahun, barulah dapat uang
bantuan 5 atau 10 rupiah dan beberapa tahun kemudian, barulah
diangkat jadi juru tulis. Akhirnya, apabila telah tua, barulah
dapat jadi menteri polisi atau ajung jaksa," tanya Arifin pula.
"Sebabnya ada bermacam-macam. Ada yang bekerja sesungguhnya
karena hendak mencari kehidupan dengan tiada
mempunyal maksud lain. Itulah yang baik. Tetapi ada pula yang
memandang pangkat saja, sebab pada sangkanya, apabila ia telah
menjadi pegawai, telah tinggilah pangkatnya dengan diharmati
dan ditakuti orang. Lain daripada itu dapat pula ia berbuat
sekehendak hatinya kepada anak negerinya. Tetapi sangkaku
orang yang sedemikian, rnemang orang yang tiada dipandang
dan dihormati orang. Apabila ia seorang yang memang telah
dipandang dan dihormati orang, tentulah ia tidak berkehendak
lagi akan pandangan dan kehormatan, dan tiadalah pula ia akan
bersusah payah, berhabis uang, untuk mendapat pangkat dan
kemuliaan itu; istimewa pula, sebab dalam hal ini, bukan
orangnya melainkan pangkatnya yang dihormati dan dimuliakan.
Oleh sebab itu acap kali, kita lihat, semasa di dalam berpangkat,
sangat dihormati dan dimuliakan orang, tetapi bila telah berhenti,
tiada diindahkan orang lagi. Sebaik-baiknya kehormatan dan
kemuliaan itu jangan timbul dari kekuasaan, melainkan dari hati
yang suci, disebabkan oleh kebaikan kita sendiri.
Ada pula orang yang memang dengan maksud jahat, mencari
pangkat, sebab diketahuinya, pangkat itu besar kuasanya; dengan
demikian lekas dan mudah diperolehnya segala maksudnya.
Akan tetapi pikiran yang semacam ini, hanya ada pada mereka
yang tiada lurus hatinya. Mereka yang mengerti, tentulah akan
tahu, bahwa kekuasaannya tak lebih daripada kekuasaan anak
negerinya dan pangkatnya sebenarnya rendah daripada pangkat
orang yang tiada makan gaji. Karena orang ini bebas, boleh
berbuat sekehendak hatinya, tak perlu menurut perintah, sebab
tak menerima upah. Kalau ia bersalah yang menghukum
bukannya pegawai itu melainkan undang-undang juga. Pegawai
hanya seorang yang digaji Pemerintah, untuk menjalankan
sesuatu kekuasaan, yang tak bersalah, tentu tak dapat
dihukumnya dengan lurus. Untung benar tiada sekalian pegawai
demikian kelakuannya. Banyak yang semata-mata dengan
maksud baik menjabat pekerjaan. Dan sesungguhnya, banyak
kebaikan yang dapat diperbuat mereka, karena kekuasaan tadi."
"Ah, aku tiada memandang kehormatan, kekuasaan, dan
pangkat," jawab Bakhtiar tiba-tiba, "asal cukup dapat uang,
pekerjaan apa pun tiada kuindahkan. Boleh orang memanggil
kuli kepadaku, asal diberinya gaji yang cukup."
"Supaya jangan sampai kekurangan kue-kue, bukan?
Dipanggil hantu kue pun tak mengapa," kata Arifm sambil
tertawa-tawa mengganggu sahabatnya ini.
"Apalagi yang kaucari dalam dunia ini, lain daripada
keenakan dan kesenangan? Engkau belajar sekarang ini dengan
maksud supaya kemudian mendapat kesusahankah?" jawab
Bakhtiar.
"Tentu tidak," kata Samsu pula, yang rupanya hendak
menyabarkan kedua sahabatnya, yang seakan-akan bermusuhmusuhan
itu. "Tetapi di manakah tinggalnya ceritamu tadi,
Arifin? Cobalah teruskan!"
"Benar, tetapi yang terlebih baik ialah kita teruskan
perjalanan kita ini, sebab kalau kita masih berhenti di sini,
sampai hari kiamat pun belum juga kita akan sampai ke atas. Di
jalan kelak kusambung cerita itu."
Keempat anak muda ini mendakilah pula. Setelah sejurus
lamanya mereka mendaki jalan menanjak, berceritalah pula
Arifin, "Belum berapa lama aku tidur, terperanjatlah aku bangun,
karena aku dengar suara orang berkata, "Jangan banyak cakap!
Nanti kupukul kepalamu, sampai engkau tak dapat bergerak
lagi!"
Maka gemetarlah seluruh tubuhku, karena pada sangkaku,
tentulah suara itu suara si pengamuk yang telah menangkap
bujangku, supaya mudah melakukan niatnya yang jahat kepada
kami. Istimewa pula, karena tatkala itu kedengaran suara orang
naik tangga rumahku, lalu mengetuk pintu, menyuruh bukakan
pintu. Sebab takutku, tak tahulah aku apa yang hendak
kuperbuat. Walaupun aku hendak berdiri mencari senjata akan
membela diriku dan ibuku, melawan orang itu tetapi tak dapat
karena kakiku berat rasanya, sebagai terpaku pada lantai. Ketika
aku hendak berteriak minta tolong, suaraku tak hendak keluar,
sebab leherku serasa dicekik orang. Untunglah ibuku berani
bertanya, "Siapa itu?"
"Aku," jawab dari luar.
Walaupun suara itu rupanya sebagai suara ayahku, ibuku
belum percaya juga, sebab ia bertanya pula, "Aku siapa?"
"Engku Hop (hoofd), orang kaya," jawab opas ayahku.
Ketika itu barulah nyata benar kepadaku, bahwa ayahku ada
di luar. Setelah ibuku berkata, "Bukalah pintu, Arifin," barulah
aku dapat bangun dari kursiku, lalu pergi membuka pintu; tetapi
palangnya tiada kulepaskan dari tanganku, supaya dapat
kupergunakan jadi pemukul, bila yang masuk itu bukan ayahku,
sebab khawatirku belum hilang. Tetapi rupanya benar ayahku
yang masuk. Tatkala dilihatnya aku masih jaga, ia bertanya,
"Hai, belum tidur?"
"Belum, Ayah," jawabku, "sebab takut, jadi hilang kantuk."
"Patut engkau jadi hulubalang besar," kata ayahku pula
dengan tersenyum, serta menyuruh pasang lampu kantornya.
Sesudah makan, diperiksalah perkara pengamukan tadi. "Di
sinilah kulihat si pengamuk itu."
"Bagaimana rupanya?" tanya Nurbaya.
"Ah, sebagai orang yang biasa saja. Hidungnya satu, matanya
dua," jawab Arifin.
"Ya, tentu. Tetapi maksudku bukan demikian; serupa
penjahatkah atau serupa orang baik-baikkah ia, tuakah atau
masih mudakah, orang sinikah atau orang lain negerikah?" kata
Nurbaya pula.
"Pada sangkaku bangsa penjudi tetapi masih muda.
Tangannya dibelenggu, bajunya koyak-koyak dan berlumur
darah, mukanya pucat, badannya gemetar dan matanya berputarputar,
sebagai masih marah," jawab Arifin dengan suara yang
seram.
"Hi! Alangkah takutku, kalau melihat orang yang demikian,"
kata Nurbaya, sambil mengecutkan badannya, karena berdiri
bulu romanya.
"Memang, aku pun tak berani dekat. Takut kalau-kalau
datang pula nafsunya hendak mengamuk dan dapat dipatahkannya
belenggunya."
"Ya, tetapi kalau tak ada pisau, bagaimana mengamuk?"
dakwa Bakhtiar, yang hendak mengejek Arifin.
"Dengan tangan dan gigi, seperti engkau mengamuk kuekue,"
jawab Arifin dengan tertawa, sebab ia dapat pula
mengganggu sahabatnya ini.
"Orang mana ia dan apa mulanya, maka ia sampai berbuat
demikian?" tanya Nurbaya, sebagai hendak memadamkan perselisihan
Bakhtiar dengan Arifin.
"Rupanya ia anak kampung Sawahan. Asal perkelahian,
perkara main judi. Sebab ia banyak kalah, matanya jadi gelap,"
sahut Arifin, dengan tiada mengindahkan sahabatnya, Bakhtiar
yang mengerut dahinya.
"Berapa orang yang diamuknya?" tanya Samsu.
"Dua orang; yang seorang mati, sebab kena dadanya; yang
seorang lagi luka parah di kepalanya, lalu dibawa ke rumah
sakit."
"Kasihan!" kata Nurbaya.
"Apa sebabnya, maka lama benar baru ia tertangkap?" tanya
Samsu pula.
"Sebab mula-mula ia lari menyembunyikan dirinya, dan
tatkala hendak ditangkap, ia melawan. Tetapi sebab banyak
orang yang memburunya, jadi dapat juga ia dipersamasamakan,"
jawab Arifin. "Sesudah itu diperiksa oleh ayahku, si
pengamuk terus dibawa ke penjara."
"Bagaimanakah agaknya keputusan perkara itu?" tanya
Nurbaya.
"Pada sangkaku, si pengamuk itu akan dihukum buang,
sekurang-kurangnya sepuluh tahun," jawab Arifin.
"Hura!" demikianlah bunyi sorak Bakhtiar tiba-tiba, "kita
telah sampai."
Sesungguhnya keempat anak muda itu, dengan tiada
dirasainya, telah hampir sampai ke puncak Gunung Padang,
karena tiang bendera dan rumah perhentian yang ada di sana,
telah kelihatan. Tiada lama kemudian daripada itu, Nurbaya
merebahkan dirinya ke atas sebuah bangku, dalam.rumah
perhentian ini, sambil berkata, "Akhirnya sampai juga kita
kemari!"'
"Asal sabar, yakin dan tawakkal, tentulah sampai maksud
yang kekal," jawab Bakhtiar dengan perlahan-lahan, sebagai
seorang yang alim.
"Tetapi kalau tiada diusahakan diri, bagaimana?" tanya Arifin
yang masih menentang Bakhtiar. "Bolehkah Tuan Guru sampai
kemari, jika tiada berjalan lebih dahulu? Dapatkah Tuan Guru
yang sangat alim ini mengaji Quran, apabila tiada dipelajari lebih
dahulu? Dan dapatkah menjadi tukang tambur, sebab perut tiada
diisi lebih dahulu dengan kue-kue, melainkan dengan sabar,
yakin dan tawakkal saja?"
"Ah, dengan engkau memang tak dapat bercakap-cakap;
lebih baik aku pergi ke sana," sahut Bakhtiar dengan sebalnya
lalu keluar rumah perhentian itu, pergi ke buaian.
"Ya, pergilah ke sana dan bercakap-cakap dengan kayukayuan
itu! Tentu tiada dibatalkannya perkataanmu, sebab ia tak
pandai menjawab. Dengan demikian, dapatlah engkau berkata
sesuka hatimu, tetapi seorang diri, seperti orang ... hm," sahut
Arifin, lalu pergi pula ke tempat lain.
Tatkala itu Samsulbahri masih berdiri, rupanya sedang asyik
memandang ke sebelah timur, kemudian memutar kepalanya
perlahan-lahan ke sebelah utara dan akhirnya ke sebelah barat.
Pikirannya sebagai tak ada dekat teman-temannya, melainkan
jauh di balik gunung yang tinggi, di seberang lautan yang dalam.
Bagaikan ada suatu suara yang berbisik di telinganya, demikian:
"Samsulbahri, pandang dan tilik serta perhatikanlah benarbenar
olehmu tanah lahirmu ini, tempat tumpah darahmu, karena
tiada berapa lama lagi engkau akan berangkat meninggalkan
sekaliannya; berangkat jauh ke rantau orang, berjalan bukan
untuk sehari dua, bahkan berbulan dan bertahun. Siapa tahu,
barangkali engkau tak dapat kembali pulang, karena nasib tiaptiap
makhluk yang di atas dunia ini ada di dalam tangan Allah,
dan nyawanya adalah sebagai tergantung pada sehelai benang
sutera, yang halus dan rapuh, sehingga terkadang-kadang angin
yang bertiup sepoi-sepoi pun dapat memutuskan tali pergantungan
itu."
Entah pikiran yang sedemikian, entah keelokan pemandangan
puncak gunung itu yang memberi asyik hati anak muda ini,
tiadalah dapat dilihat pada air mukanya yang bermuram-muram
durja, sebagai mengandung suka dengan duka.
Memang pemandangan di atas Gunung Padang sangat elok,
karena dari sana, nyata kelihatan pertemuan antara daratan
dengan lautan, sebagai garis: putih yang terbentang dari kaki
Gunung Padang arah ke utara, melalui jalan yang berbelokbelok,
yang terkadang-kadang jauh menganjur ke laut, sehingga
terjadilah pada beberapa tempat, di kanan-kiri tanjung-tanjung
ini, teluk yang permai.
Pada beberapa tempat, rupanya baris pinggir laut itu sebagai
bergeiak-gerak, disebabkan oleh ombak, yang memecah di tepi
pantai yang menimbulkan buih yang putih warnanya. Orang
yang memukat ikan, kelihatan sebagai semut berkerumun di sana
sini. Alangkah elok rupanya perhubungan daratan dan lautan itu,
dua benda yang menjadikan dunia ini, tetapi yang sangat
berlainan warna, sifat, hal, dan isinya.
Di sebelah barat dan utara kelihatan lapangan yang sangat
luas dan datar, yang kebiru-biruan warnanya dan yang pada
beberapa tempat sebagai dierami oleh pulau-pulau kecil, yang
berjejer letaknya, dari utara ke selatan, adalah seakan-akan suatu
telaga yang amat besar, yang berdindingkan langit putih di
sebelah barat. Pada sangka ahli bumi, pulau-pulau itu dahulu
kala, berhubungan dengan pulau Sumatera. Karena keruntuhan
di dasar lautan, tenggelamlah perhubungan itu, meninggalkan
beberapa pulau.
Di sebelah timur, kelihatan daratan yang hijau warnanya,
yang penuh ditumbuhi pohon kelapa dan pohon yang lain-lain,
adalah seakan-akan sebuah kebun yang amat luas layaknya. Pada
beberapa tempat kelihatan pohon cemara dan pohon ketapang
yang tinggi-tinggi, sebagai menjulangkan puncaknya dari
tindihan pohon kelapa yang banyak itu, supaya dapat menangkap
angin dan cahaya matahari. Di sana-sini tampak atap rumah yang
merah atau putih warnanya, sebagai mengintip. dari celahcelah
daun kayu. Hanya pada bagian yang dekat ke kaki Gunung
Padang itulah yang banyak rumah dan jalan-jalannya yang berbaris-
baris, sejajar dengan sungai Arau.
Jauh di sebelah timur, kebun yang besar itu dipagari oleh
gunung-gunung yang memtujur pulau Sumatera, yaitu sebagian