Senin, 15 April 2013

PART 9


"Dalam seratus, jarang seorang agaknya," jawab Samsu.
"Sebab hal itu sangat susahnya."
"Jika begitu apa sebabnya, maka masih banyak saja orang
yang mau bekerja di kantor polisi? Ada pula yang tiada dapat
gaji, walaupun ia harus berpakaian yang patut, datang ke tempat
pekerjaannya. Sesudah beberapa tahun, barulah dapat uang
bantuan 5 atau 10 rupiah dan beberapa tahun kemudian, barulah
diangkat jadi juru tulis. Akhirnya, apabila telah tua, barulah
dapat jadi menteri polisi atau ajung jaksa," tanya Arifin pula.
"Sebabnya ada bermacam-macam. Ada yang bekerja sesungguhnya
karena hendak mencari kehidupan dengan tiada
mempunyal maksud lain. Itulah yang baik. Tetapi ada pula yang
memandang pangkat saja, sebab pada sangkanya, apabila ia telah
menjadi pegawai, telah tinggilah pangkatnya dengan diharmati
dan ditakuti orang. Lain daripada itu dapat pula ia berbuat
sekehendak hatinya kepada anak negerinya. Tetapi sangkaku
orang yang sedemikian, rnemang orang yang tiada dipandang
dan dihormati orang. Apabila ia seorang yang memang telah
dipandang dan dihormati orang, tentulah ia tidak berkehendak
lagi akan pandangan dan kehormatan, dan tiadalah pula ia akan
bersusah payah, berhabis uang, untuk mendapat pangkat dan
kemuliaan itu; istimewa pula, sebab dalam hal ini, bukan
orangnya melainkan pangkatnya yang dihormati dan dimuliakan.
Oleh sebab itu acap kali, kita lihat, semasa di dalam berpangkat,
sangat dihormati dan dimuliakan orang, tetapi bila telah berhenti,
tiada diindahkan orang lagi. Sebaik-baiknya kehormatan dan
kemuliaan itu jangan timbul dari kekuasaan, melainkan dari hati
yang suci, disebabkan oleh kebaikan kita sendiri.
Ada pula orang yang memang dengan maksud jahat, mencari
pangkat, sebab diketahuinya, pangkat itu besar kuasanya; dengan
demikian lekas dan mudah diperolehnya segala maksudnya.
Akan tetapi pikiran yang semacam ini, hanya ada pada mereka
yang tiada lurus hatinya. Mereka yang mengerti, tentulah akan
tahu, bahwa kekuasaannya tak lebih daripada kekuasaan anak
negerinya dan pangkatnya sebenarnya rendah daripada pangkat
orang yang tiada makan gaji. Karena orang ini bebas, boleh
berbuat sekehendak hatinya, tak perlu menurut perintah, sebab
tak menerima upah. Kalau ia bersalah yang menghukum
bukannya pegawai itu melainkan undang-undang juga. Pegawai
hanya seorang yang digaji Pemerintah, untuk menjalankan
sesuatu kekuasaan, yang tak bersalah, tentu tak dapat
dihukumnya dengan lurus. Untung benar tiada sekalian pegawai
demikian kelakuannya. Banyak yang semata-mata dengan
maksud baik menjabat pekerjaan. Dan sesungguhnya, banyak
kebaikan yang dapat diperbuat mereka, karena kekuasaan tadi."
"Ah, aku tiada memandang kehormatan, kekuasaan, dan
pangkat," jawab Bakhtiar tiba-tiba, "asal cukup dapat uang,
pekerjaan apa pun tiada kuindahkan. Boleh orang memanggil
kuli kepadaku, asal diberinya gaji yang cukup."
"Supaya jangan sampai kekurangan kue-kue, bukan?
Dipanggil hantu kue pun tak mengapa," kata Arifm sambil
tertawa-tawa mengganggu sahabatnya ini.
"Apalagi yang kaucari dalam dunia ini, lain daripada
keenakan dan kesenangan? Engkau belajar sekarang ini dengan
maksud supaya kemudian mendapat kesusahankah?" jawab
Bakhtiar.
"Tentu tidak," kata Samsu pula, yang rupanya hendak
menyabarkan kedua sahabatnya, yang seakan-akan bermusuhmusuhan
itu. "Tetapi di manakah tinggalnya ceritamu tadi,
Arifin? Cobalah teruskan!"
"Benar, tetapi yang terlebih baik ialah kita teruskan
perjalanan kita ini, sebab kalau kita masih berhenti di sini,
sampai hari kiamat pun belum juga kita akan sampai ke atas. Di
jalan kelak kusambung cerita itu."
Keempat anak muda ini mendakilah pula. Setelah sejurus
lamanya mereka mendaki jalan menanjak, berceritalah pula
Arifin, "Belum berapa lama aku tidur, terperanjatlah aku bangun,
karena aku dengar suara orang berkata, "Jangan banyak cakap!
Nanti kupukul kepalamu, sampai engkau tak dapat bergerak
lagi!"
Maka gemetarlah seluruh tubuhku, karena pada sangkaku,
tentulah suara itu suara si pengamuk yang telah menangkap
bujangku, supaya mudah melakukan niatnya yang jahat kepada
kami. Istimewa pula, karena tatkala itu kedengaran suara orang
naik tangga rumahku, lalu mengetuk pintu, menyuruh bukakan
pintu. Sebab takutku, tak tahulah aku apa yang hendak
kuperbuat. Walaupun aku hendak berdiri mencari senjata akan
membela diriku dan ibuku, melawan orang itu tetapi tak dapat
karena kakiku berat rasanya, sebagai terpaku pada lantai. Ketika
aku hendak berteriak minta tolong, suaraku tak hendak keluar,
sebab leherku serasa dicekik orang. Untunglah ibuku berani
bertanya, "Siapa itu?"
"Aku," jawab dari luar.
Walaupun suara itu rupanya sebagai suara ayahku, ibuku
belum percaya juga, sebab ia bertanya pula, "Aku siapa?"
"Engku Hop (hoofd), orang kaya," jawab opas ayahku.
Ketika itu barulah nyata benar kepadaku, bahwa ayahku ada
di luar. Setelah ibuku berkata, "Bukalah pintu, Arifin," barulah
aku dapat bangun dari kursiku, lalu pergi membuka pintu; tetapi
palangnya tiada kulepaskan dari tanganku, supaya dapat
kupergunakan jadi pemukul, bila yang masuk itu bukan ayahku,
sebab khawatirku belum hilang. Tetapi rupanya benar ayahku
yang masuk. Tatkala dilihatnya aku masih jaga, ia bertanya,
"Hai, belum tidur?"
"Belum, Ayah," jawabku, "sebab takut, jadi hilang kantuk."
"Patut engkau jadi hulubalang besar," kata ayahku pula
dengan tersenyum, serta menyuruh pasang lampu kantornya.
Sesudah makan, diperiksalah perkara pengamukan tadi. "Di
sinilah kulihat si pengamuk itu."
"Bagaimana rupanya?" tanya Nurbaya.
"Ah, sebagai orang yang biasa saja. Hidungnya satu, matanya
dua," jawab Arifin.
"Ya, tentu. Tetapi maksudku bukan demikian; serupa
penjahatkah atau serupa orang baik-baikkah ia, tuakah atau
masih mudakah, orang sinikah atau orang lain negerikah?" kata
Nurbaya pula.
"Pada sangkaku bangsa penjudi tetapi masih muda.
Tangannya dibelenggu, bajunya koyak-koyak dan berlumur
darah, mukanya pucat, badannya gemetar dan matanya berputarputar,
sebagai masih marah," jawab Arifin dengan suara yang
seram.
"Hi! Alangkah takutku, kalau melihat orang yang demikian,"
kata Nurbaya, sambil mengecutkan badannya, karena berdiri
bulu romanya.
"Memang, aku pun tak berani dekat. Takut kalau-kalau
datang pula nafsunya hendak mengamuk dan dapat dipatahkannya
belenggunya."
"Ya, tetapi kalau tak ada pisau, bagaimana mengamuk?"
dakwa Bakhtiar, yang hendak mengejek Arifin.
"Dengan tangan dan gigi, seperti engkau mengamuk kuekue,"
jawab Arifin dengan tertawa, sebab ia dapat pula
mengganggu sahabatnya ini.
"Orang mana ia dan apa mulanya, maka ia sampai berbuat
demikian?" tanya Nurbaya, sebagai hendak memadamkan perselisihan
Bakhtiar dengan Arifin.
"Rupanya ia anak kampung Sawahan. Asal perkelahian,
perkara main judi. Sebab ia banyak kalah, matanya jadi gelap,"
sahut Arifin, dengan tiada mengindahkan sahabatnya, Bakhtiar
yang mengerut dahinya.
"Berapa orang yang diamuknya?" tanya Samsu.
"Dua orang; yang seorang mati, sebab kena dadanya; yang
seorang lagi luka parah di kepalanya, lalu dibawa ke rumah
sakit."
"Kasihan!" kata Nurbaya.
"Apa sebabnya, maka lama benar baru ia tertangkap?" tanya
Samsu pula.
"Sebab mula-mula ia lari menyembunyikan dirinya, dan
tatkala hendak ditangkap, ia melawan. Tetapi sebab banyak
orang yang memburunya, jadi dapat juga ia dipersamasamakan,"
jawab Arifin. "Sesudah itu diperiksa oleh ayahku, si
pengamuk terus dibawa ke penjara."
"Bagaimanakah agaknya keputusan perkara itu?" tanya
Nurbaya.
"Pada sangkaku, si pengamuk itu akan dihukum buang,
sekurang-kurangnya sepuluh tahun," jawab Arifin.
"Hura!" demikianlah bunyi sorak Bakhtiar tiba-tiba, "kita
telah sampai."
Sesungguhnya keempat anak muda itu, dengan tiada
dirasainya, telah hampir sampai ke puncak Gunung Padang,
karena tiang bendera dan rumah perhentian yang ada di sana,
telah kelihatan. Tiada lama kemudian daripada itu, Nurbaya
merebahkan dirinya ke atas sebuah bangku, dalam.rumah
perhentian ini, sambil berkata, "Akhirnya sampai juga kita
kemari!"'
"Asal sabar, yakin dan tawakkal, tentulah sampai maksud
yang kekal," jawab Bakhtiar dengan perlahan-lahan, sebagai
seorang yang alim.
"Tetapi kalau tiada diusahakan diri, bagaimana?" tanya Arifin
yang masih menentang Bakhtiar. "Bolehkah Tuan Guru sampai
kemari, jika tiada berjalan lebih dahulu? Dapatkah Tuan Guru
yang sangat alim ini mengaji Quran, apabila tiada dipelajari lebih
dahulu? Dan dapatkah menjadi tukang tambur, sebab perut tiada
diisi lebih dahulu dengan kue-kue, melainkan dengan sabar,
yakin dan tawakkal saja?"
"Ah, dengan engkau memang tak dapat bercakap-cakap;
lebih baik aku pergi ke sana," sahut Bakhtiar dengan sebalnya
lalu keluar rumah perhentian itu, pergi ke buaian.
"Ya, pergilah ke sana dan bercakap-cakap dengan kayukayuan
itu! Tentu tiada dibatalkannya perkataanmu, sebab ia tak
pandai menjawab. Dengan demikian, dapatlah engkau berkata
sesuka hatimu, tetapi seorang diri, seperti orang ... hm," sahut
Arifin, lalu pergi pula ke tempat lain.
Tatkala itu Samsulbahri masih berdiri, rupanya sedang asyik
memandang ke sebelah timur, kemudian memutar kepalanya
perlahan-lahan ke sebelah utara dan akhirnya ke sebelah barat.
Pikirannya sebagai tak ada dekat teman-temannya, melainkan
jauh di balik gunung yang tinggi, di seberang lautan yang dalam.
Bagaikan ada suatu suara yang berbisik di telinganya, demikian:
"Samsulbahri, pandang dan tilik serta perhatikanlah benarbenar
olehmu tanah lahirmu ini, tempat tumpah darahmu, karena
tiada berapa lama lagi engkau akan berangkat meninggalkan
sekaliannya; berangkat jauh ke rantau orang, berjalan bukan
untuk sehari dua, bahkan berbulan dan bertahun. Siapa tahu,
barangkali engkau tak dapat kembali pulang, karena nasib tiaptiap
makhluk yang di atas dunia ini ada di dalam tangan Allah,
dan nyawanya adalah sebagai tergantung pada sehelai benang
sutera, yang halus dan rapuh, sehingga terkadang-kadang angin
yang bertiup sepoi-sepoi pun dapat memutuskan tali pergantungan
itu."
Entah pikiran yang sedemikian, entah keelokan pemandangan
puncak gunung itu yang memberi asyik hati anak muda ini,
tiadalah dapat dilihat pada air mukanya yang bermuram-muram
durja, sebagai mengandung suka dengan duka.
Memang pemandangan di atas Gunung Padang sangat elok,
karena dari sana, nyata kelihatan pertemuan antara daratan
dengan lautan, sebagai garis: putih yang terbentang dari kaki
Gunung Padang arah ke utara, melalui jalan yang berbelokbelok,
yang terkadang-kadang jauh menganjur ke laut, sehingga
terjadilah pada beberapa tempat, di kanan-kiri tanjung-tanjung
ini, teluk yang permai.
Pada beberapa tempat, rupanya baris pinggir laut itu sebagai
bergeiak-gerak, disebabkan oleh ombak, yang memecah di tepi
pantai yang menimbulkan buih yang putih warnanya. Orang
yang memukat ikan, kelihatan sebagai semut berkerumun di sana
sini. Alangkah elok rupanya perhubungan daratan dan lautan itu,
dua benda yang menjadikan dunia ini, tetapi yang sangat
berlainan warna, sifat, hal, dan isinya.
Di sebelah barat dan utara kelihatan lapangan yang sangat
luas dan datar, yang kebiru-biruan warnanya dan yang pada
beberapa tempat sebagai dierami oleh pulau-pulau kecil, yang
berjejer letaknya, dari utara ke selatan, adalah seakan-akan suatu
telaga yang amat besar, yang berdindingkan langit putih di
sebelah barat. Pada sangka ahli bumi, pulau-pulau itu dahulu
kala, berhubungan dengan pulau Sumatera. Karena keruntuhan
di dasar lautan, tenggelamlah perhubungan itu, meninggalkan
beberapa pulau.
Di sebelah timur, kelihatan daratan yang hijau warnanya,
yang penuh ditumbuhi pohon kelapa dan pohon yang lain-lain,
adalah seakan-akan sebuah kebun yang amat luas layaknya. Pada
beberapa tempat kelihatan pohon cemara dan pohon ketapang
yang tinggi-tinggi, sebagai menjulangkan puncaknya dari
tindihan pohon kelapa yang banyak itu, supaya dapat menangkap
angin dan cahaya matahari. Di sana-sini tampak atap rumah yang
merah atau putih warnanya, sebagai mengintip. dari celahcelah
daun kayu. Hanya pada bagian yang dekat ke kaki Gunung
Padang itulah yang banyak rumah dan jalan-jalannya yang berbaris-
baris, sejajar dengan sungai Arau.
Jauh di sebelah timur, kebun yang besar itu dipagari oleh
gunung-gunung yang memtujur pulau Sumatera, yaitu sebagian

PART 8


kipas. Sekaliannya ini dijaga dan dibersihkan oleh orang
hukuman. Oleh sebab hal yang sedemikian, pada tiap-tiap hari
Ahad, dikunjungilah tempat ini oleh mereka yang hendak
berjalan jalan mencari kesenangan dan kesehatan tubuhnya,
seraya membawa makanan-makanan dan minuman-minuman.
Ketika Nurbaya dengan teman-temannya sampai ke pertengahan
gunung itu, pada suatu pendakian yang curam, berkatalah
ia sambil mencari batu besar tempat duduk, "Alangkah
baiknya; apabila ada kendaraan yang dapat ditunggang ke atas
ini!"
"Bagaimana? Belum sampai separuh jalan, telah lelah," kata
Arifin, seraya membuka buah bajunya, akan melepaskan hawa
panas yang keluar dari badannya.
"Kalau tulangku sebesar tulangmu, aku tidak akan berkata
sedemikian," jawab Nurbaya.
"Ha, pada sangkaku sekarang datang waktunya, aku akan
menceritakan, betapa asal mulanya keramaian di rumahku tadi
malam, sebab kulihat kamu sekalian berteriak, karena
kelelahan," kata Arifm.
"Ya, ya," jawab Bakhtiar, "mulailah!"
"Baik, dengarlah dan perhatikan benar-benar!" kata Arifin
pula, lalu bercerita, "Tatkala berbunyi katuk-katuk, aku sedang
ada dengan orang tuaku di serambi belakang, hendak makan.
Sangat terkejut kami, sebab bunyi katuk-katuk itu datang dari
rumah jaga, yang tiada berapa jauhnya dari rumah kami. Ayahku
lalu melompat dari kursinya dan berteriak kepada opasnya,
"Saban, suruh pasang bendi!" kemudiap masuklah ia ke dalam
biliknya akan menukar pakaiannya. Seketika lagi, keluarlah pula
ia, lalu berteriak, sambil mengancingkan bajunya, "Sudah,
Saban?"
"Sudah, Engku," jawab opas ini.
Ayahku lalu turun, sambil berkata kepada ibuku, "Masuk ke
dalam dan tutup pintu!"
Ibuku yang rupanya sangat terkejut, tak dapat berkata apaapa,
hanya, "Hati-hati!" tatkala dilihatnya ayahku turun.
"Jangan khawatir!" jawab ayahku, lalu melompat ke atas
bendinya.
Maka tinggallah kami dengan si Baki, sebab tukang kuda tak
ada di rumah. Katuk-katuk itu bunyinya kian lama kian keras,
sehingga kami makin lama makin bertambah takut. Maka
disuruhlah oleh ibuku tutup pintu dan jendela, lalu kami masuk
ke dalam bilik. Karena takut, tiadalah kami ingat akan lapar
kami.
"Ya, benar," kata Samsu, "Kami di rumah pun demikian pula;
hanya bertiga dengan bujang saja. Ayahku sejak pukul lima
petang tak ada di rumah. Coba kalau ada apa-apa, bagaimana
dapat melawan? Untunglah ayah Nurbaya datang ke rumahku,
mengatakan kami tak usah takut, sebab pengamukan itu jauh.
Dan lagi kalau ada apa-apa ia segera datang."
"Itulah yang menjadikan khawatir hatiku," kata Arifin pula,
"sebab memang orang yang memegang pekerjaan sebagai ayah
kita, lebih banyak musuhnya daripada sahabatnya. Walaupun
kucoba menghilangkan takutku dengan berkata ini dan itu
kepada ibuku atau membaca buku, tetapi ngeri itu tiadalah
hendak meninggalkan pikiranku; istimewa pula sebab kadangkadang
kedengaran suara ribut di jalan raya.
Sebentar-sebentar bunyi katuk katuk itu bertambah keras,
sebagai hendak menyatakan, ada pula seorang lagi yang kena
tikam si pengamuk. Dua jam lamanya kami di dalam ketakutan
dan kira kira pukul sebelas, barulah mulai kurang bunyi katukkatuk
itu. Tiada lama sudah itu, hilanglah bunyi ini sekaliannya,
hingga heboh tadi jadi sunyi senyap. Ketika itu, barulah agak
hilang takutku, karena kuketahui si pengamuk tentulah sudah
dapat ditangkap. Tetapi ayahku belum juga pulang. Mataku
mulai mengantuk dan dengan tiada kuketahui tertidurlah aku di
atas kursi. Ibuku, pada sangkaku, tiada dapat memejamkan matanya,
sebab memikirkan ayahku, takut kalau-kalau ia mendapat
celaka."
"Memang pekerjaan polisi sangat berbahaya," jawab Samsu,
"dan acap kali kita dimusuhi orang pula."
"Tetapi kalau kita baik dengan anak negeri," kata Bakhtiar,
"masakan dimusuhinya."
"Tentu lebih disukainya daripada orang yang jahat kepada
mereka. Akan tetapi, walaupun demikian, masih saja dibenci.
Ada juga jalannya, supaya tiada dimusuhi orang, yaitu: yang
bersalah jangan ditangkap, jangan dihukum dan diturutkan
segala kemauannya; sebab meskipun bagaimana berat atau
ringan kesalahan mereka, dihukum tentu mereka tak suka. Dan
apabila dijalankan juga hukuman, tentulah mereka akan menaruh
dendam dalam hatinya. Istimewa pula kalau yang dihukum itu
seorang yang berbangsa tinggi atau kaya, dan yang menghukum,
orang kebanyakan saja."
"Kalau begitu, kita namanya bukan pegawai, melainkan
seorang yang tiada menurut sumpah dan janjinya, orang yang
memperdayakan Pemerintah atau orang yang makan gaji buta
atau pencuri gaji. Kalau tahu Pemerintah kelakuan kita yang
demikian, tentulah kita akan dipecat daripada pekerjaan kita,"
sahut Arifin.
"Lagi pula bagaimana akan dapat menurut kemauan sekalian
orang? Sedangkan kehendak dua orang yang berlawanan, lagi
tak dapat diturut. Misalnya seorang yang tak alim, tidak suka
langgar dibangun dekat rumahnya, sebab terlalu ribut katanya;
tetapi orang sebelah rumahnya, yang keras memegang agama,
minta langgar itu diperbuat di sana, supaya mudah pergi berbuat
ibadat. Betapa dapat menurut kedua kesukaan yang berlawanan
ini?"
"Tentu tak dapat," jawab Samsu. "Memang bagi seorang
pegawai, hal yang sedemikian seperti kata pepatah: Bagai
bertemu buah si mala kamo*). Dimakan, mati bapak, tidak
dimakan, mati mak. Mana yang hendak dipilih?"
"Kalau aku, barangkali tidak kumakan buah itu," kata
Bakhtiar mencampuri perbincangan ini.
"Jadi kau rupanya lebih sayang kepada ayahmu, daripada
kepada ibumu," sahut Nurbaya.
*) Buah perumpamaan, yang hanya ada dalam peribahasa
"Bukan begitu, Nur," jawab Bakhtiar, "kalau perkara sayang,
tentu aku lebih sayang kepada ibuku daripada kepada ayahku,
sebab ibuku suka memberi aku kue-kue, tetapi ayahku suka
memberi aku tempeleng. Dan pada rasaku, kue-kue lebih enak
daripada tempeleng. Tetapi kalau ayahku mati, ibuku tak dapat
mencari kehidupan sebagai ayahku. Betul ia boleh bersuami
pula, tetapi masakan ayah tiriku akan sayang kepadaku seperti
ayah kandungku. Jadi bagaimanakah halku kelak? Dapatkah juga
aku akan meneruskan pelajaranku?"
"Baik, tetapi kalau ayahmu kawin pula, sesudah ibumu
meninggal, bagaimana?" tanya Nurbaya.
"Tidak mengapa, sebab ayahku masih ada, yang dapat
membantu aku," jawab Bakhtiar.
"Kalau mak tirimu itu sayang kepadamu; tapi kalau ia benci
kepadamu, sebagai acap kali terjadi di negeri kita ini, tentulah
akan diasutnya ayahmu, sampai ayahmu pun benci pula
kepadamu. Bagaimana? Mak hilang, ayah benci. Akan tetapi,
kalau makmu masih hidup, walaupun ia tak dapat menolong
kamu ataupun ia bersuami pula, sayangnya tetap padamu. Ia tak
dapat diasut-asut. Bukankah sudah dikatakan dalam peribahasa:
Sayang ayah kepada anaknya sepanjang penggalah, jadi ada
hingganya, tetapi sayang ibu kepada anaknya sepanjang jalan,
tak berkeputusan."
"Ya, benar katamu itu, Nur," jawab Bakhtiar dengan kuatir
rupanya, serasa banar akan terjadi hal itu atas dirinya: "Yang
sebaik-baiknya janganlah aku bertemu dengan buah jahanam itu
dan biarlah ibu-bapakku hidup sampai aku ada pekerjaan, yang
dapat memberi penghidupan kepadaku."
"Sebenarnya orang yang menjadi pegawai Pemerintah," kata
Samsu pula, seakan-akan hendak melenyapkan ingatan yang
kurang enak itu dari dalam hati Bakhtiar, "dalam pekerjaannya
harus dapat berbuat dirinya seperti suatu mesin, yang sebetulbetulnya
menjalankan dan memperbuat segala apa yang harus
diperbuatnya. Artinya, tiada pandang-memandang, tiada menaruh
kasihan, tiada berat sebelah, tiada dapat tergoda oleh uang
atau pemberian dan lain-lain sebagainya."
"Tetapi adakah orang yang sedemikian?" tanya Arifin.

PART 7


sebuah rumah punjung yang bundar dan cantik bangunnya,
diperbuat di atas suatu gunung-gunungan, sebagai suatu mahligai
di dalam istana. Tiadalah heran kita, apabila taman ini menjadi
suatu tempat yang sangat menarik hati bangsa Eropah, yang
tinggal di kota Padang; karena sesungguhnya amat senang
perasaan-dan indah pemandangan, apabila pada petang hari
duduk di sana, melihat matahari terbenam di sebelah barat.
Misalkanlah oleh pembaca yang belum ke sana, tempat ini
suatu taman bunga-bungaan yang permai tetapi sunyi senyap. Di
atas sebuah bangku yang ada dalam mahligai yang letaknya di
tengah-tengah taman itu, bernaung di bawah pohon kayu yang
rindang, duduk seorang anak muda yang sedang termenungmenung
ke sebelah barat, kepada suatu kolam yang amat luas,
yang membentahg di sisi taman itu, sedang ombaknya memecah
di kaki anak muda tadi, menyiram bunga-bungaan yang di sana.
Jauh di sebelah barat di tengah-tengah kolam ini, kelihatan
beberapa buah pulau, yang berleret¬leret letaknya sebagai pagar
kolam ini. Di balik pulau-pulau itu adalah suatu mestika yang
bundar, sebagai sebuah bola mas, yang menyala-nyala, memancarkan
cahayanya yang kilau-kemilau ke muka air kolam,
yang seakan-akan suatu kaca besar, membalikkan cahaya yang
jatuh ke atasnya, ke dalam taman tadi, menyinari segala pohonpohonan
dan bunga-bungaan yang ada di sana.
Perlahan-lahan, dengan tak kelihatan jalannya turunlah
mestika itu ke bawah, sebagai ditarik oleh seorang jin, yang tiada
kelihatan sehingga akhirnya tenggelamlah ia ke dalam kolarn
yang ujungnya bagaikan bersabung dengan langit, meninggalkan
gambar-gambar, yang rupanya seakan-akan timbul dari dalam
air. Ada yang sebagai Naga yang sedang berjuang, ada yang
sebagai kuda yang sedang berlari, ada pula yang sebagai kapal
tengah berlayar atau pulau yang merapung di atas air dan lainlain
sebagaiya.
Mereka yang menaruh pilu dan sedih, janganlah ke sana,
pada waktu itu, karena sejauh tepi langit dari tepi kolam itu,
sejauh itu pulalah kelak pikiran dan kenang-kenangan mereka.*)
Tetapi bagi mereka yang berkasih-kasihan tempat itu, pada
waktu terang bulan, adalah sebagai dengan sengaja diperbuatnya.
Sayang di ujung selatan tanian ini ada rumah penjara dan di
ujung utaranya ada kantor pengadilan, keduanya tempat yang
mendatangkan dahsyat dan sedih hati, apabila diingat beberapa
orang yang telah dipenjarakan karena mendapat hukuman di
sana, yang barangkali ada juga di antaranya tiada bersalah.
Sekarang marilah kita kembali mengikuti keempat sahabat
kita, yang kita tinggalkan di atas bendi tadi, sebab kalau terlalu
lama kita berhenti di taman ini, pastilah takkan dapat lagi kita
*) Sayang taman itu sampai sekarang tak dipelihara lagi
susul keempat anak muda itu.
"Bukan demikian," jawab Arifin, tatkala mendengar perkataan
Samsu. "Ada beberapa sebabnya, maka aku tak mau menceritakan
hal yang sangat penting ini, kepadamu sekalian.
Pertama supaya kamu dapat belajar menahan hati, karena itulah
suatu sifat yang baik benar bagi manusia. Orang yang sabar dan
dapat menahan keinginan hatinya, jarang salah barang perbuatannya.
Ingatlah cerita perempuan dengan kucingnya dan
cerita ayam yang bertelur emas itu!"
"Bagaimanakah ceritanya?" tanya Nurbaya.
"Tidak tahukah engkau cerita itu, Nur? Nanti aku ceritakan,"
jawab Samsu.
"Kedua..." kata Arifin pula, akan menyambung uraiannya.
"Hai, kita sudah sampai," kata Bakhtiar, dan seketika itu juga
bendi mereka berhenti dekat sebuah gudang.
"Ya," jawab Samsu, "baiklah kita turun."
Sekaliannya turunlah dari atas bendi, sambil membawa
bekal-masing-masing, lalu pergi ke pinggir sungai Arau, akan
mencari sebuah sampan tambangan, yang dapat membawa
mereka ke seberang.
"Pukul bqrapa Engku Muda pulang?" tanya Pak Ali.
"O ya," jawab Samsu, sambil menoleh ke belakang, "datang
sajalah pukul dua belas."
"Baiklah," jawab Pak Ali, lalu memutar kudanya pulang ke
rumahnya.
Tatkala keempat anak muda itu sampai ke pinggir sungai
Arau, datanglah beberapa sampan mendekat ke sana.
"Di sampanku inilah! Di sini baik, sampan tak oleng! Di sini
seduit seorang!" demikianlah kata tukang-tukang sampan.
"Lebih baik kita tunggu sampan yang datang itu, karena
sampan itu besar, jadi tak oleng," kata Nurbaya.
"Benar," jawab Samsu.
Seketika lagi sampan yang besar itu pun sampailah ke
pinggir, lalu keempat anak muda tadi naik dan didayungkan ke
seberang.
"Kedua," kata Arifin di atas sampan ini tiba-tiba, untuk
menyambung cerita tadi, ' jika kita sangat ingin kepada barang
sesuatu dan lekas kita peroleh keinginan hati kita itu, boleh
mendatangkan penyakit kepada kita.
Ketiga, kebesaran hati karena segera beroleh keinginan itu,
tiada lama, sebab lekas jemu akan benda yang diingini itu.
Misalnya: kita umpamakan, Bakhtiar amat suka kepada kue-kue.
Tetapi itu hanya perumparnaan saja, Bakhtiar, jangan marah,"
kata Arifin pura-pura bersungguh-sungguh tetapi sebenarnya,
akan mempermainkan temannya ini; sehingga dalam hatinya ia
tertawa.
"Walaupun sebenarnya kaukatakan aku suka kue aku tidak
juga akan marah," kata Bakhtiar, "sebab memang suka kue-kue."
"Ya, itulah sebabnya kuambil perumpamaan ini, supaya tepat
kenanya," jawab Arifin. "Kalau misalnya si Bakhtiar dalam
setahun tiada dipertemukan dengan idamannya kue-kue, tentulah
keinginannya hendak memakan kue-kue itu tak dapat_dikatakan
besarnya."
"Biar kujual kepalaku untuk pembeli kue-kue," jawab
Bakhtiar.
"Tetapi kalau engkau tak berkepala lagi, bagaimana pula
engkau dapat memakan kue-kue itu?" tanya Arifin sambil tertawa,
sehingga seisi sampan sekaliannya ikut tertawa pula.
"Memang tak tepat jawabanku," kata Bakhtiar, sambil tertawa
pula bersama-sama. •
"Setelah setahun tak makan kue, tiba-tiba si Bakhtiar dibawa
ke toko kue nyonya Jansen, dan dikatakan kepadanya, "Boleh
kaumakan, apa yang kausukai!" kata Arifin pula.
"Tentulah perkataan itu tak kusuruh ulang lagi," jawab
Bakhtiar dan sesungguhnya, air ludahnya bagaikan keluar,
karena mengingat kue-kue yang enak itu, "dan dengan segera kuterkam
kue tar, bolu, sepekuk, yang lezat cita rasanya itu."
"Sedikitkah atau banyakkah kaumakan kue-kue itu?" tanya
Arifin.
"Sepuas-puas hatiku, sampai tak termakan lagi," jawab
Bakhtiar.
"Nah, itulah dia! Oleh sebab terlalu kenyang, boleh jadi kau
mendapat penyakit atau jemu kepada kue-kue atau tak bernafsu
makan lagi. Bukankah tak baik itu?" kata Arifin.
"Ya, benar," jawab Samsu.
"Jemu katamu? Aku jemu kepada kue kue? Pada sangkaku
jika habis sekalipun umurku, belum juga habis nafsuku kepada
kue-kue," jawab Bakhtiar.
"Aku belum mengerti orang yang tak berumur lagi, masih
bernafsu kepada kue-kue," kata Arifin.
"Bakhtiar, Bakhtiar!" sahut Nurbaya, sambil menggelenggelengkan
kepalanya. "Lebih baik engkau jadi tukang kue saja,
seperti nyonya Jansen, supaya kenyang perutmu."
"Di dalam. sepekan, tentulah jatuh tokoku itu, sebab habis
kumakani segala kueku. Tiap-tiap orang yang hendak membeli
kue-kueku, kuusir, supaya makanari itu jangan habis olehnya,"
kata Bakhtiar. Sekalian yang mendengar tertawa.
"Keempat," kata Arifin pula, "acap kali merusakkan badan.
Ingatlah kalau kuda terlalu,panas, jadi terlalu haus, atau orang
yang telah empat lima hari tiada minum, tiba-tiba diberi minum
terlalu banyak, boleh mendatangkan ajalnya.
Yang kelima, yaitu yang terutama sekali, yang hampir lupa
kusebutkan, yakni supaya kelak jangan engkau rasai lelah
mendaki, karena ingatanmu telah diikat oleh ceritaku yang amat
menarik."
"Keenam," menyela Bakhtiar, "sebab kita telah sampai ke
seberang, haruslah kita bayar sewa sampan orang," seraya ia
mengeluarkan uang empat sen dari koceknya dan memberikan
uang itu kepada tukang sampan, lalu melompat ke darat. Ketiga
temannya pun melompat pula mengikutiny,a.
"Di kedai itu aku lihat ada tebu, marilah kita beli! Tentu kita
nanti akan haus di jalan," kata Samsu.
"Aku ada membawa seterup dua botol," jawab Bakhtiar.
"Kalau cukup; kalau tak cukup, di mana kita cari air nanti?"
kata Samsu pula.
Sesudah membeli tebu, mulailah keempat anak muda ini
mendaki.
Gunung Padang yang tingginya kira-kira 322 M, ialah ujung
sebelah utara gunung-gunung rendah, yang memanjang di
sebelah selatan kota Padang. Itulah sebabnya, maka pinggir laut
di situ pada beberapa tempat curam dan jarang didiami orang.
Asalnya gunung-gunung ini pada Bukit Barisan, yang
memanjang di tengah-tengah pulau Sumatera dari ujung barat
laut ke ujung tenggara. Gunung Padang adalah sebagai suatu
cabang Bukit Barisan itu, yang menganjur ke barat, sampai ke
tepi laut kota Padang.
Orang Belanda menamai Gunung Padang ini Apenberg
(gunung kera*), sebab di puncaknya banyak kera yang jinak
jinak, yang memberi kesukaan kepada mereka yang mendaki
gunung itu. Apabila dipanggil dan diberi pisang, datanglah kerakera
itu berpuluh-puluh banyaknya, memperebut-rebutkan
makanan ini. Kera yang besar-besar, terkadang-kadang berani
merampas pisang atau makanan lain, dari tangan orang.
Sungguhpun demikian., tak ada orang yang berani berbuat apaapa
atas kera-kera ini, sebab pada sangka anak negeri kota
Padang, kera-kera itu keramat, tak boleh diganggu-ganggu. Jika
dibunuh, tentulah yang membunuh itu akan mati pula, dan jika
ditangkap, tentulah yang menangkap itu tak dapat mencari jalan
pulang. Ada pula yang bersangka, bahwa kera-kera itu asalnya
dari sekalian orang yang telah mati, yang dikuburkan di gunung
itu, hidup kembali sebagai kera jadi jadian.
Memang di gunung itu banyak kuburan, sedang di puncaknya
adalah sebuah makam, di dalam suatu gua batu, tempat orang
berkaul dan bernazar. Sekali setahun, tatkala akan masuk puasa
dan pada waktu hari raya, penuhlah gunung itu dengan laki-laki
dan perempuan, yang datang mengunjungi kuburan sanak
saudaranya, yang telah meninggalkan dunia, untuk mendoakan
*) Sebenarnya yang dinamakan Apenberg itu sebuah daripada
puncaknya, yang dekat ke tepi laut, tingginya 108 m.
arwahnya.
Walaupun gunung ini pada hakikatnya tempat sedih dan duka
cita, akan tetapi sebab pemandangan di atas puncaknya sangat
indah, dijadikanlah, ia tempat bermain-main. Jalan naik ke atas
bertangga-tangga, supaya pada musim hujan, mudah juga dapat
didaki. Di puncaknya didirikan tiang bendera yang tinggi. Pada
tiap-tiap hari Ahad, berkibarlah bendera pada ujung tiang ini.
Dekat tiang bendera itu, diperbuat sebuah rumah punjung yang
bundar, cukup dengan bangku dan mejanya, tempat melepaskan
lelah. Akan menyejukkan badan yang panas karena mendaki,
diperbuatlah pula ayun-ayunan, tempat berangin-angin, ganti