karena merekalah kelak yang acap kali akan bertemu dengan
kita, di dalam hikayat ini.
Anak laki-laki yang dipanggil Sam oleh temannya tadi, ialah
Samsulbahri, anak Sutan Mahmud Syah, Penghulu di Padang;
seorang yang berpangkat dan berbangsa tinggi. Anak ini telah
duduk di kelas 7 Sekolah Belanda Pasar Ambacang. Oleh sebab
ia seorang anak yang pandai, gurunya telah memintakan kepada
Pemerintah, supaya ia dapat meneruskan pelajarannya pada
Sekolah Dokter Jawa di Jakarta.
Ia bukannya seorang anak yang pandai sahaja, tingkah
lakunya pun baik; tertib, sopan santun, serta halus budi
bahasanya. Lagi pula ia lurus hati dan boleh dipercayai.
Walaupun ia rupanya sebagai seorang anak yang lemah-lem¬but,
akan tetapi jika perlu, tidaklah ia takut menguji kekuatan dan
keberani¬annya dengan siapa saja; lebih-lebih untuk membela
yang lemah. Dalam hal itu, tiadalah ia pandang-memandang
bangsa ataupun pangkat. Itulah sebabnya ia sangat dimalui
teman-temannya. Kalau tak ada alangan apa-apa, tiga bulan lagi
berangkatlah Samsulbahri ke tanah Jawa, untuk menuntut ilmu
yang lebih tinggi.
Temannya yang dipanggilnya Nur tadi ialah Sitti Nurbaya,
anak Baginda Sulaiman, seorang saudagar kaya di Padang, yang
mempunyai beberapa toko yang besar-besar, kebun yang lebarlebar
serta beberapa perahu di laut, untuk pembawa
perdagangannya melalui lautan. Anak ini pun seorang gadis,
yang dapat dikatakan tiada bercacat, karena bukan rupanya saja
yang cantik, tetapi kelakuan dan adatnya, tertib dan sopannya,
serta kebaikan hatinya, tiadalah kurang daripada kecantikan
parasnya.
Oleh sebab ia anak seorang yang kaya dan karena ia cerdik.
dan pandai pula, ia disukai dan disayangi pula oleh temantemannya.
Hanya ayahnya, bukan seorang yang berasal tinggi,
sebagai Sultan Mahmud Syah, Penghulu yang tinggal di sebelah
rumahnya. Sungguhpun demikian, Penghulu dan saudagar ini
bukannya dua orang yang bersahabat karib saja, tetapi adalah
sebagi orang yang bersaudara kandung. Hampir setiap hari
saudagar Baginda Sulaiman datang ke rumah Penghulu Sutan
Mahmud Syah. Kalau tidak, tentulah Penghulu itu datang ke
rumah saudagar ini. Jika seorang mempunyai makanan, tak dapat
tiada diberikannya juga sebahagian kepada sahabatnya. Barang
sesuatu yang akan diperbuatnya, dirundingkannya lebih dahulu
dengan karibnya.
Oleh sebab itulah, Samsulbahri dan Nurbaya tiada berasa
orang lain lagi, melainkan serasa orang yang seibu sebapa
keduanya. Istimewa pula, karena mereka masing-masing anak
yang tunggal tiada beradik, tiada berkakak. Dari kecil, sampai
kepada waktu cerita ini dimulai, kedua remaja itu belumlah
pernah bercerai barang sehari pun; boleh dikatakan makan
sepiring, tidur sebantal.
Bagaimanakah hal kedua anak muda ini kelak, apabila datang
waktunya, Samsulbahri harus berangkat meninggalkan kampung
halamannya dan ibu-bapa serta handai tolannya? Nantilah akan
diceritakan betapa berat perceraian itu.
Tadi telah dikatakan, tatkala Samsulbahri sampai ke rumahnya,
ayahnya sedang bercakap-cakap dengan seorang jamu, di
serambi muka. Orang ini masuk bilangan sahabat Penghulu itu
juga, sebab ia acap kali kelihatan makan minum di sana.
Menurut air muka dan rambutnya yang telah putih ditumbuhi
uban, nyatalah ia tiada remaja lagi. Akan tetapi, walaupun ia
telah tua, badannya masih sempurna, kukuh dan sehat, karena ia
seorang yang mampu.
Itulah Datuk Meringgih, saudagar Padang yang termasyhur
kayanya, sampai ke negeri-negeri lain. Pada masa itu, di antara
saudagar-saudagar bangsa Melayu di padang, tiada seorang pun
dapat melawan kekayaan Datuk Meringgih ini. Hampir sekalian
toko dan rumah yang besar-besar di Pasar Gedang, kepunyaannya.
Hampir sekalian tanah di Padang, tertulis di atas namanya.
Sawahnya beratus piring dan kebunnya beratus bahu. Hampir
sekalian perahu yang berlabuh di Muara, di dalam tangannya.
Sekalian rotan dan damar, serta hasil hutan yang lain-lain, yang
datang dari Painan dan Terusan, masuk ke dalam tempat
penyimpanannya. Berkapal-kapal kelapa keringnya, yang
dikirimkannya ke benua Eropah. Bergudang-gudang barangbarang
yang dipesannya dari negeri lain-lain.
Siapakah yang tiada mengenal namanya? Sampai ke
Singapura dan Melaka, Datuk Meringgih diketahui orang. Tak
ada seorang bangsa Eropah atau Cina, Arab atau Keling yang
kaya dan berpangkat di Padang, yang tiada bersahabat dengan
dia. Ia pun sangat pula merapati mereka, terlebih-lebih yang
berpangkat tinggi. Adakah maksudnya berbuat demikian? Atau
sebab memang ia seorang yang baik budi? Kelak akan kita
ketahui juga hal ini.
Sungguhpun Datuk Meringgih seorang yang kaya raya, tetapi
tiadalah ia berbangsa tinggi. Konon khabarnya, tatkala mudanya,
ia sangat miskin. Bagaimana ia boleh menjadi kaya sedemikian
itu, tiadalah seorang juga yang tahu, lain daripada ia sendiri.
Suatu sifat yang ada padanya, yang dapat menambah kekayaannya
itu, ialah ia amat sangat kikir. Perkara uang sesen, maulah ia
rasanya berbunuhan. Jika ia hendak mengeluarkan duitnya,
dibolak-balikkannya dahulu uang itu beberapa kali, sebagai tak
dapat ia bercerai dengan mata uang ini, seraya berkata dalam
hatinya, "Aku berikanlah uang ini atau tidak?" Hanya untuk
suatu perkara saja ia tiada bakhil, yaitu untuk perempuan. Berapa
kali ia telah kawin dan bercerai, tiadalah dapat dibilang. Hampir
dalam tiap-tiap kampung, ada anaknya. Tiada boleh ia melihat
perempuan yang cantik rupanya, tentulah dipinangnya. Walaupun
ia harus mengeluarkan uang seribu rupiah sekalipun, tiadalah
diindahkannya, asal sampai maksudnya. Kebanyakan
perempuan yang jatuh ke dalam tangan Datuk Meringgih ini,
semata-mata karena uangnya itu juga. Sebab lain daripada itu,
tak ada yang dapat dipandang padanya. Rupanya buruk, umurnya
telah lanjut, pakaian dan rumah tangganya kotor, adat dan
kelakuannya kasar dan bengis, bangsanya rendah, pangkat dan
kepandaianpuntak ada, selain dari pada kepandaian berdagang.
Akan tetapi karena kekuasaan uangnya, yang tinggi menjadi
rendah, yang keras menjadi lunak dan yang jauh men-jadi dekat.
Bukankah besar kekuasaan uang itu? Tentu, apakah yang
lebih daripada uang? Dunia ini berputar mengelilingi uang.
Sekaliannya ujudnya uang.
"Hai, telah pukul satu!" demikian kata Sutan Mahmud,
tatkala dilihatnya anaknya pulang dari sekolah.
"Sudah setengah dua," jawab Datuk Meringgih, setelah
melihat arlojinya, yang besar, yang berantaikan pita berpintal,
dari kantung atas bajunya.
"Jadi Engku Datuk beri pinjam hamba uang yang 3000
rupiah itu?" tanya Sutan Mahmud.
"Tentu," jawab Datuk Meringgih dengan pastinya.
"Tetapi apakah yang akan hamba berikan kepada Engku
Datuk untuk jadi andalan?" tanya Sutan Mahmud.
"Tidak apa-apa. Hamba percaya kepada Tuanku Penghulu,
karena Tuankn bukan baru hamba kenal. Jika orang lain, tentu
hamba minta jaminan."
"Bukan begitu," kata Sutan Mahmud pula. "Hamba banyak
meminta terima kasih kepada Engku Datuk, sebab percaya pada
hamba; tetapi utang harus ada tandanya. Bila besok lusa hamba
meninggal dunia sebelum utang itu lunas dibayar, bagaimanakah?
Oleh sebab itu, kelak akan hamba kirimkan kepada Engku
Datuk, suatu surat perjanjian, bahwa rumah hamba ini dengan
tanah-tanahnya, telah hamba gadaikan kepada Engku dengan
harga 3000 rupiah."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar