Senin, 15 April 2013

PART 7


sebuah rumah punjung yang bundar dan cantik bangunnya,
diperbuat di atas suatu gunung-gunungan, sebagai suatu mahligai
di dalam istana. Tiadalah heran kita, apabila taman ini menjadi
suatu tempat yang sangat menarik hati bangsa Eropah, yang
tinggal di kota Padang; karena sesungguhnya amat senang
perasaan-dan indah pemandangan, apabila pada petang hari
duduk di sana, melihat matahari terbenam di sebelah barat.
Misalkanlah oleh pembaca yang belum ke sana, tempat ini
suatu taman bunga-bungaan yang permai tetapi sunyi senyap. Di
atas sebuah bangku yang ada dalam mahligai yang letaknya di
tengah-tengah taman itu, bernaung di bawah pohon kayu yang
rindang, duduk seorang anak muda yang sedang termenungmenung
ke sebelah barat, kepada suatu kolam yang amat luas,
yang membentahg di sisi taman itu, sedang ombaknya memecah
di kaki anak muda tadi, menyiram bunga-bungaan yang di sana.
Jauh di sebelah barat di tengah-tengah kolam ini, kelihatan
beberapa buah pulau, yang berleret¬leret letaknya sebagai pagar
kolam ini. Di balik pulau-pulau itu adalah suatu mestika yang
bundar, sebagai sebuah bola mas, yang menyala-nyala, memancarkan
cahayanya yang kilau-kemilau ke muka air kolam,
yang seakan-akan suatu kaca besar, membalikkan cahaya yang
jatuh ke atasnya, ke dalam taman tadi, menyinari segala pohonpohonan
dan bunga-bungaan yang ada di sana.
Perlahan-lahan, dengan tak kelihatan jalannya turunlah
mestika itu ke bawah, sebagai ditarik oleh seorang jin, yang tiada
kelihatan sehingga akhirnya tenggelamlah ia ke dalam kolarn
yang ujungnya bagaikan bersabung dengan langit, meninggalkan
gambar-gambar, yang rupanya seakan-akan timbul dari dalam
air. Ada yang sebagai Naga yang sedang berjuang, ada yang
sebagai kuda yang sedang berlari, ada pula yang sebagai kapal
tengah berlayar atau pulau yang merapung di atas air dan lainlain
sebagaiya.
Mereka yang menaruh pilu dan sedih, janganlah ke sana,
pada waktu itu, karena sejauh tepi langit dari tepi kolam itu,
sejauh itu pulalah kelak pikiran dan kenang-kenangan mereka.*)
Tetapi bagi mereka yang berkasih-kasihan tempat itu, pada
waktu terang bulan, adalah sebagai dengan sengaja diperbuatnya.
Sayang di ujung selatan tanian ini ada rumah penjara dan di
ujung utaranya ada kantor pengadilan, keduanya tempat yang
mendatangkan dahsyat dan sedih hati, apabila diingat beberapa
orang yang telah dipenjarakan karena mendapat hukuman di
sana, yang barangkali ada juga di antaranya tiada bersalah.
Sekarang marilah kita kembali mengikuti keempat sahabat
kita, yang kita tinggalkan di atas bendi tadi, sebab kalau terlalu
lama kita berhenti di taman ini, pastilah takkan dapat lagi kita
*) Sayang taman itu sampai sekarang tak dipelihara lagi
susul keempat anak muda itu.
"Bukan demikian," jawab Arifin, tatkala mendengar perkataan
Samsu. "Ada beberapa sebabnya, maka aku tak mau menceritakan
hal yang sangat penting ini, kepadamu sekalian.
Pertama supaya kamu dapat belajar menahan hati, karena itulah
suatu sifat yang baik benar bagi manusia. Orang yang sabar dan
dapat menahan keinginan hatinya, jarang salah barang perbuatannya.
Ingatlah cerita perempuan dengan kucingnya dan
cerita ayam yang bertelur emas itu!"
"Bagaimanakah ceritanya?" tanya Nurbaya.
"Tidak tahukah engkau cerita itu, Nur? Nanti aku ceritakan,"
jawab Samsu.
"Kedua..." kata Arifin pula, akan menyambung uraiannya.
"Hai, kita sudah sampai," kata Bakhtiar, dan seketika itu juga
bendi mereka berhenti dekat sebuah gudang.
"Ya," jawab Samsu, "baiklah kita turun."
Sekaliannya turunlah dari atas bendi, sambil membawa
bekal-masing-masing, lalu pergi ke pinggir sungai Arau, akan
mencari sebuah sampan tambangan, yang dapat membawa
mereka ke seberang.
"Pukul bqrapa Engku Muda pulang?" tanya Pak Ali.
"O ya," jawab Samsu, sambil menoleh ke belakang, "datang
sajalah pukul dua belas."
"Baiklah," jawab Pak Ali, lalu memutar kudanya pulang ke
rumahnya.
Tatkala keempat anak muda itu sampai ke pinggir sungai
Arau, datanglah beberapa sampan mendekat ke sana.
"Di sampanku inilah! Di sini baik, sampan tak oleng! Di sini
seduit seorang!" demikianlah kata tukang-tukang sampan.
"Lebih baik kita tunggu sampan yang datang itu, karena
sampan itu besar, jadi tak oleng," kata Nurbaya.
"Benar," jawab Samsu.
Seketika lagi sampan yang besar itu pun sampailah ke
pinggir, lalu keempat anak muda tadi naik dan didayungkan ke
seberang.
"Kedua," kata Arifin di atas sampan ini tiba-tiba, untuk
menyambung cerita tadi, ' jika kita sangat ingin kepada barang
sesuatu dan lekas kita peroleh keinginan hati kita itu, boleh
mendatangkan penyakit kepada kita.
Ketiga, kebesaran hati karena segera beroleh keinginan itu,
tiada lama, sebab lekas jemu akan benda yang diingini itu.
Misalnya: kita umpamakan, Bakhtiar amat suka kepada kue-kue.
Tetapi itu hanya perumparnaan saja, Bakhtiar, jangan marah,"
kata Arifin pura-pura bersungguh-sungguh tetapi sebenarnya,
akan mempermainkan temannya ini; sehingga dalam hatinya ia
tertawa.
"Walaupun sebenarnya kaukatakan aku suka kue aku tidak
juga akan marah," kata Bakhtiar, "sebab memang suka kue-kue."
"Ya, itulah sebabnya kuambil perumpamaan ini, supaya tepat
kenanya," jawab Arifin. "Kalau misalnya si Bakhtiar dalam
setahun tiada dipertemukan dengan idamannya kue-kue, tentulah
keinginannya hendak memakan kue-kue itu tak dapat_dikatakan
besarnya."
"Biar kujual kepalaku untuk pembeli kue-kue," jawab
Bakhtiar.
"Tetapi kalau engkau tak berkepala lagi, bagaimana pula
engkau dapat memakan kue-kue itu?" tanya Arifin sambil tertawa,
sehingga seisi sampan sekaliannya ikut tertawa pula.
"Memang tak tepat jawabanku," kata Bakhtiar, sambil tertawa
pula bersama-sama. •
"Setelah setahun tak makan kue, tiba-tiba si Bakhtiar dibawa
ke toko kue nyonya Jansen, dan dikatakan kepadanya, "Boleh
kaumakan, apa yang kausukai!" kata Arifin pula.
"Tentulah perkataan itu tak kusuruh ulang lagi," jawab
Bakhtiar dan sesungguhnya, air ludahnya bagaikan keluar,
karena mengingat kue-kue yang enak itu, "dan dengan segera kuterkam
kue tar, bolu, sepekuk, yang lezat cita rasanya itu."
"Sedikitkah atau banyakkah kaumakan kue-kue itu?" tanya
Arifin.
"Sepuas-puas hatiku, sampai tak termakan lagi," jawab
Bakhtiar.
"Nah, itulah dia! Oleh sebab terlalu kenyang, boleh jadi kau
mendapat penyakit atau jemu kepada kue-kue atau tak bernafsu
makan lagi. Bukankah tak baik itu?" kata Arifin.
"Ya, benar," jawab Samsu.
"Jemu katamu? Aku jemu kepada kue kue? Pada sangkaku
jika habis sekalipun umurku, belum juga habis nafsuku kepada
kue-kue," jawab Bakhtiar.
"Aku belum mengerti orang yang tak berumur lagi, masih
bernafsu kepada kue-kue," kata Arifin.
"Bakhtiar, Bakhtiar!" sahut Nurbaya, sambil menggelenggelengkan
kepalanya. "Lebih baik engkau jadi tukang kue saja,
seperti nyonya Jansen, supaya kenyang perutmu."
"Di dalam. sepekan, tentulah jatuh tokoku itu, sebab habis
kumakani segala kueku. Tiap-tiap orang yang hendak membeli
kue-kueku, kuusir, supaya makanari itu jangan habis olehnya,"
kata Bakhtiar. Sekalian yang mendengar tertawa.
"Keempat," kata Arifin pula, "acap kali merusakkan badan.
Ingatlah kalau kuda terlalu,panas, jadi terlalu haus, atau orang
yang telah empat lima hari tiada minum, tiba-tiba diberi minum
terlalu banyak, boleh mendatangkan ajalnya.
Yang kelima, yaitu yang terutama sekali, yang hampir lupa
kusebutkan, yakni supaya kelak jangan engkau rasai lelah
mendaki, karena ingatanmu telah diikat oleh ceritaku yang amat
menarik."
"Keenam," menyela Bakhtiar, "sebab kita telah sampai ke
seberang, haruslah kita bayar sewa sampan orang," seraya ia
mengeluarkan uang empat sen dari koceknya dan memberikan
uang itu kepada tukang sampan, lalu melompat ke darat. Ketiga
temannya pun melompat pula mengikutiny,a.
"Di kedai itu aku lihat ada tebu, marilah kita beli! Tentu kita
nanti akan haus di jalan," kata Samsu.
"Aku ada membawa seterup dua botol," jawab Bakhtiar.
"Kalau cukup; kalau tak cukup, di mana kita cari air nanti?"
kata Samsu pula.
Sesudah membeli tebu, mulailah keempat anak muda ini
mendaki.
Gunung Padang yang tingginya kira-kira 322 M, ialah ujung
sebelah utara gunung-gunung rendah, yang memanjang di
sebelah selatan kota Padang. Itulah sebabnya, maka pinggir laut
di situ pada beberapa tempat curam dan jarang didiami orang.
Asalnya gunung-gunung ini pada Bukit Barisan, yang
memanjang di tengah-tengah pulau Sumatera dari ujung barat
laut ke ujung tenggara. Gunung Padang adalah sebagai suatu
cabang Bukit Barisan itu, yang menganjur ke barat, sampai ke
tepi laut kota Padang.
Orang Belanda menamai Gunung Padang ini Apenberg
(gunung kera*), sebab di puncaknya banyak kera yang jinak
jinak, yang memberi kesukaan kepada mereka yang mendaki
gunung itu. Apabila dipanggil dan diberi pisang, datanglah kerakera
itu berpuluh-puluh banyaknya, memperebut-rebutkan
makanan ini. Kera yang besar-besar, terkadang-kadang berani
merampas pisang atau makanan lain, dari tangan orang.
Sungguhpun demikian., tak ada orang yang berani berbuat apaapa
atas kera-kera ini, sebab pada sangka anak negeri kota
Padang, kera-kera itu keramat, tak boleh diganggu-ganggu. Jika
dibunuh, tentulah yang membunuh itu akan mati pula, dan jika
ditangkap, tentulah yang menangkap itu tak dapat mencari jalan
pulang. Ada pula yang bersangka, bahwa kera-kera itu asalnya
dari sekalian orang yang telah mati, yang dikuburkan di gunung
itu, hidup kembali sebagai kera jadi jadian.
Memang di gunung itu banyak kuburan, sedang di puncaknya
adalah sebuah makam, di dalam suatu gua batu, tempat orang
berkaul dan bernazar. Sekali setahun, tatkala akan masuk puasa
dan pada waktu hari raya, penuhlah gunung itu dengan laki-laki
dan perempuan, yang datang mengunjungi kuburan sanak
saudaranya, yang telah meninggalkan dunia, untuk mendoakan
*) Sebenarnya yang dinamakan Apenberg itu sebuah daripada
puncaknya, yang dekat ke tepi laut, tingginya 108 m.
arwahnya.
Walaupun gunung ini pada hakikatnya tempat sedih dan duka
cita, akan tetapi sebab pemandangan di atas puncaknya sangat
indah, dijadikanlah, ia tempat bermain-main. Jalan naik ke atas
bertangga-tangga, supaya pada musim hujan, mudah juga dapat
didaki. Di puncaknya didirikan tiang bendera yang tinggi. Pada
tiap-tiap hari Ahad, berkibarlah bendera pada ujung tiang ini.
Dekat tiang bendera itu, diperbuat sebuah rumah punjung yang
bundar, cukup dengan bangku dan mejanya, tempat melepaskan
lelah. Akan menyejukkan badan yang panas karena mendaki,
diperbuatlah pula ayun-ayunan, tempat berangin-angin, ganti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar