Senin, 15 April 2013

PART 8


kipas. Sekaliannya ini dijaga dan dibersihkan oleh orang
hukuman. Oleh sebab hal yang sedemikian, pada tiap-tiap hari
Ahad, dikunjungilah tempat ini oleh mereka yang hendak
berjalan jalan mencari kesenangan dan kesehatan tubuhnya,
seraya membawa makanan-makanan dan minuman-minuman.
Ketika Nurbaya dengan teman-temannya sampai ke pertengahan
gunung itu, pada suatu pendakian yang curam, berkatalah
ia sambil mencari batu besar tempat duduk, "Alangkah
baiknya; apabila ada kendaraan yang dapat ditunggang ke atas
ini!"
"Bagaimana? Belum sampai separuh jalan, telah lelah," kata
Arifin, seraya membuka buah bajunya, akan melepaskan hawa
panas yang keluar dari badannya.
"Kalau tulangku sebesar tulangmu, aku tidak akan berkata
sedemikian," jawab Nurbaya.
"Ha, pada sangkaku sekarang datang waktunya, aku akan
menceritakan, betapa asal mulanya keramaian di rumahku tadi
malam, sebab kulihat kamu sekalian berteriak, karena
kelelahan," kata Arifm.
"Ya, ya," jawab Bakhtiar, "mulailah!"
"Baik, dengarlah dan perhatikan benar-benar!" kata Arifin
pula, lalu bercerita, "Tatkala berbunyi katuk-katuk, aku sedang
ada dengan orang tuaku di serambi belakang, hendak makan.
Sangat terkejut kami, sebab bunyi katuk-katuk itu datang dari
rumah jaga, yang tiada berapa jauhnya dari rumah kami. Ayahku
lalu melompat dari kursinya dan berteriak kepada opasnya,
"Saban, suruh pasang bendi!" kemudiap masuklah ia ke dalam
biliknya akan menukar pakaiannya. Seketika lagi, keluarlah pula
ia, lalu berteriak, sambil mengancingkan bajunya, "Sudah,
Saban?"
"Sudah, Engku," jawab opas ini.
Ayahku lalu turun, sambil berkata kepada ibuku, "Masuk ke
dalam dan tutup pintu!"
Ibuku yang rupanya sangat terkejut, tak dapat berkata apaapa,
hanya, "Hati-hati!" tatkala dilihatnya ayahku turun.
"Jangan khawatir!" jawab ayahku, lalu melompat ke atas
bendinya.
Maka tinggallah kami dengan si Baki, sebab tukang kuda tak
ada di rumah. Katuk-katuk itu bunyinya kian lama kian keras,
sehingga kami makin lama makin bertambah takut. Maka
disuruhlah oleh ibuku tutup pintu dan jendela, lalu kami masuk
ke dalam bilik. Karena takut, tiadalah kami ingat akan lapar
kami.
"Ya, benar," kata Samsu, "Kami di rumah pun demikian pula;
hanya bertiga dengan bujang saja. Ayahku sejak pukul lima
petang tak ada di rumah. Coba kalau ada apa-apa, bagaimana
dapat melawan? Untunglah ayah Nurbaya datang ke rumahku,
mengatakan kami tak usah takut, sebab pengamukan itu jauh.
Dan lagi kalau ada apa-apa ia segera datang."
"Itulah yang menjadikan khawatir hatiku," kata Arifin pula,
"sebab memang orang yang memegang pekerjaan sebagai ayah
kita, lebih banyak musuhnya daripada sahabatnya. Walaupun
kucoba menghilangkan takutku dengan berkata ini dan itu
kepada ibuku atau membaca buku, tetapi ngeri itu tiadalah
hendak meninggalkan pikiranku; istimewa pula sebab kadangkadang
kedengaran suara ribut di jalan raya.
Sebentar-sebentar bunyi katuk katuk itu bertambah keras,
sebagai hendak menyatakan, ada pula seorang lagi yang kena
tikam si pengamuk. Dua jam lamanya kami di dalam ketakutan
dan kira kira pukul sebelas, barulah mulai kurang bunyi katukkatuk
itu. Tiada lama sudah itu, hilanglah bunyi ini sekaliannya,
hingga heboh tadi jadi sunyi senyap. Ketika itu, barulah agak
hilang takutku, karena kuketahui si pengamuk tentulah sudah
dapat ditangkap. Tetapi ayahku belum juga pulang. Mataku
mulai mengantuk dan dengan tiada kuketahui tertidurlah aku di
atas kursi. Ibuku, pada sangkaku, tiada dapat memejamkan matanya,
sebab memikirkan ayahku, takut kalau-kalau ia mendapat
celaka."
"Memang pekerjaan polisi sangat berbahaya," jawab Samsu,
"dan acap kali kita dimusuhi orang pula."
"Tetapi kalau kita baik dengan anak negeri," kata Bakhtiar,
"masakan dimusuhinya."
"Tentu lebih disukainya daripada orang yang jahat kepada
mereka. Akan tetapi, walaupun demikian, masih saja dibenci.
Ada juga jalannya, supaya tiada dimusuhi orang, yaitu: yang
bersalah jangan ditangkap, jangan dihukum dan diturutkan
segala kemauannya; sebab meskipun bagaimana berat atau
ringan kesalahan mereka, dihukum tentu mereka tak suka. Dan
apabila dijalankan juga hukuman, tentulah mereka akan menaruh
dendam dalam hatinya. Istimewa pula kalau yang dihukum itu
seorang yang berbangsa tinggi atau kaya, dan yang menghukum,
orang kebanyakan saja."
"Kalau begitu, kita namanya bukan pegawai, melainkan
seorang yang tiada menurut sumpah dan janjinya, orang yang
memperdayakan Pemerintah atau orang yang makan gaji buta
atau pencuri gaji. Kalau tahu Pemerintah kelakuan kita yang
demikian, tentulah kita akan dipecat daripada pekerjaan kita,"
sahut Arifin.
"Lagi pula bagaimana akan dapat menurut kemauan sekalian
orang? Sedangkan kehendak dua orang yang berlawanan, lagi
tak dapat diturut. Misalnya seorang yang tak alim, tidak suka
langgar dibangun dekat rumahnya, sebab terlalu ribut katanya;
tetapi orang sebelah rumahnya, yang keras memegang agama,
minta langgar itu diperbuat di sana, supaya mudah pergi berbuat
ibadat. Betapa dapat menurut kedua kesukaan yang berlawanan
ini?"
"Tentu tak dapat," jawab Samsu. "Memang bagi seorang
pegawai, hal yang sedemikian seperti kata pepatah: Bagai
bertemu buah si mala kamo*). Dimakan, mati bapak, tidak
dimakan, mati mak. Mana yang hendak dipilih?"
"Kalau aku, barangkali tidak kumakan buah itu," kata
Bakhtiar mencampuri perbincangan ini.
"Jadi kau rupanya lebih sayang kepada ayahmu, daripada
kepada ibumu," sahut Nurbaya.
*) Buah perumpamaan, yang hanya ada dalam peribahasa
"Bukan begitu, Nur," jawab Bakhtiar, "kalau perkara sayang,
tentu aku lebih sayang kepada ibuku daripada kepada ayahku,
sebab ibuku suka memberi aku kue-kue, tetapi ayahku suka
memberi aku tempeleng. Dan pada rasaku, kue-kue lebih enak
daripada tempeleng. Tetapi kalau ayahku mati, ibuku tak dapat
mencari kehidupan sebagai ayahku. Betul ia boleh bersuami
pula, tetapi masakan ayah tiriku akan sayang kepadaku seperti
ayah kandungku. Jadi bagaimanakah halku kelak? Dapatkah juga
aku akan meneruskan pelajaranku?"
"Baik, tetapi kalau ayahmu kawin pula, sesudah ibumu
meninggal, bagaimana?" tanya Nurbaya.
"Tidak mengapa, sebab ayahku masih ada, yang dapat
membantu aku," jawab Bakhtiar.
"Kalau mak tirimu itu sayang kepadamu; tapi kalau ia benci
kepadamu, sebagai acap kali terjadi di negeri kita ini, tentulah
akan diasutnya ayahmu, sampai ayahmu pun benci pula
kepadamu. Bagaimana? Mak hilang, ayah benci. Akan tetapi,
kalau makmu masih hidup, walaupun ia tak dapat menolong
kamu ataupun ia bersuami pula, sayangnya tetap padamu. Ia tak
dapat diasut-asut. Bukankah sudah dikatakan dalam peribahasa:
Sayang ayah kepada anaknya sepanjang penggalah, jadi ada
hingganya, tetapi sayang ibu kepada anaknya sepanjang jalan,
tak berkeputusan."
"Ya, benar katamu itu, Nur," jawab Bakhtiar dengan kuatir
rupanya, serasa banar akan terjadi hal itu atas dirinya: "Yang
sebaik-baiknya janganlah aku bertemu dengan buah jahanam itu
dan biarlah ibu-bapakku hidup sampai aku ada pekerjaan, yang
dapat memberi penghidupan kepadaku."
"Sebenarnya orang yang menjadi pegawai Pemerintah," kata
Samsu pula, seakan-akan hendak melenyapkan ingatan yang
kurang enak itu dari dalam hati Bakhtiar, "dalam pekerjaannya
harus dapat berbuat dirinya seperti suatu mesin, yang sebetulbetulnya
menjalankan dan memperbuat segala apa yang harus
diperbuatnya. Artinya, tiada pandang-memandang, tiada menaruh
kasihan, tiada berat sebelah, tiada dapat tergoda oleh uang
atau pemberian dan lain-lain sebagainya."
"Tetapi adakah orang yang sedemikian?" tanya Arifin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar