Senin, 15 April 2013

PART 11


dan menyusahkan hatinya, dengan sesalan yang tiada berkeputusan,"
kata Nurbaya dengan terpikir dan sedih rupanya.
"Cerita ayam yang bertelur emas itu, lebih-lebih menjadi
ibarat bagi mereka yang loba dan tamak," kata Sam. "Demikian
hikayatnya:
Seorang peladang mempunyai ayam betina beberapa ekor.
Pada suatu hari seekor daripada ayamnya itu bertelur emas.
Bagaimana, besar hati si peladang, tentulah dapat kaumaklumi,
Nur. Karena lobanya, hendak lekas kaya, disembelihnya ayam
itu. Pada sangkanya, tentulah dengan sekaligus akan diperolehnya
sekalian telur emas yang ada dalam perut ayam itu. Akan
tetapi apa kata? Perut ayam itu isinya sebagai isi perut ayam
yang biasa juga dan sebutir telur emas pun tak ada dalamnya.
Jika ditunggunya dengan sabar, mungkin hari kedua ayam itu
bertelur emas pula. Sekarang ayamnya telah mati dan pengharapannya
telah putus."
"Harus begitu hukuman orang yang tamak sedemikian,"
jawab Nurbaya. "Jika tiada dibunuhnya ayamnya, barangkali
diperoleh setiap hari sebutir telur emas."
"Barangkali," jawab Samsu. "Tetapi Nur, sejak kita sampai
kemari, belum kita pergi ke mana-mana. Tiadakah ingin hatimu
hendak bermain-main dan berayun-ayun di buaian itu?"
"Tentu," jawab Nurbaya, "asal engkau yang mengayunkan
aku."
"Memang, siapa lagi. Arif dan Tiar tak ada di sini. Asal suka
saja engkau, berapa lama pun aku ayunkan," kata Samsu pula,
lalu pergi bersama-sama Nurbaya ke tempat sebuah buaian
kawat besi, yang diikatkan pada dua buah tiang kayu, yang tinggi
dan kukuh.
"Tetapi jangan keras-keras kauayunkan aku, Sam!" kata
Nurbaya, sambil duduk di atas ayunan itu.
"Bagaimana sukamu saja," jawab Samsu.
Setelah sejurus lamanya berayun-ayun itu, tiba-tiba berteriaklah
Nurbaya, "Ada kapal api di laut! Kelihatan dari atas ini."
Dengan segera dihentikan Samsu buaian itu, lalu keduanya
mencari sesuatu tempat yang tinggi, untuk melihat kapal yang dikatakan
Nurbaya tadi. Sesungguhnya, di laut kelihatan sebuah
kapal api, yang rupanya baru keluar dari pelabuhan Teluk Bayur,
berlayar dengan tenangnya menuju ke utara. Asapnya yang telah
tebal dan hitam mengepul di udara.
"Ke manakah perginya kapal itu, Sam?" tanya Nurbaya.
"Tentulah ke Aceh dan Sabang, barangkali singgah juga ia di
Sibolga," jawab Samsu.
"Kemudian ke mana terusnya?" tanya Nurbaya pula.
"Kembali pula kemari, lalu ke Jakarta. Bolak-balik saja
kerjanya, membawa penumpang dan muatan dari selatan ke
utara," jawab Samsu. "Barangkali dengan kapal itu kau kelak
pergi ke Jakarta," kata Nurbaya. Mendengar perkataan ini, bertukarlah
wajah muka Samsu, dari riang menjadi muram dan termenunglah
ia berapa lamanya, tiada berkata-kata. Nurbaya
sangat heran melihat hal sahabatnya yang sedemikian itu, lalu
bertanya, "Mengapa kau tiba-tiba berdiam, Sam? Kurang enakkah
badanmu?"
"Bukan, Nur. Hanya sebab engkau tadi menyebut nama
negeri tempat aku akan pergi, tiga bulan lagi," jawab Samsu.
"Pada sangkaku hatimu besar, pergi ke Jakarta," kata
Nurbaya.
"Tentu, Nur, tentu! Karena di sanalah aku akan melihat ibu
negeri Indonesia ini, kota yang sebesar-besarnya dan sebagusbagusnya,
dalam Tanah Air kita. Dan di sanalah pula aku akan
beroleh pelajaran yang akan menjadikan aku seorang yang
berilmu. Tetapi... berat sungguh hatiku akan meninggalkan kota
Padang ini, tanah lahirku, tempat tumpah darahku, kampung
halamanku. Karena di sinilah ada ayah-bundaku, kaum keluargaku,
serta handai tolanku; sedang di sana belum kuketahui dengan
siapa aku akan bersama-sama dan betapa mereka itu. Sampai
kepada waktu ini aku biasa diperlindungi orang tuaku; tetapi di
sana, tentulah aku akan hidup seorang diri."
"Tentu saja, Sam. Memang tak mudah bercerai dengan ibubapa,
handai tolan dan teman sejawat. Tetapi pada sangkaku
kecanggunganmu itu tiada berapa lama. Tiap-tiap permulaan
biasanya susah. Akan tetapi apabila telah sampai engkau ke
Jakarta kelak, tentulah akan hilang juga segala kesusahanmu,
dirintang penglihatan dan pendengaran yang indah-indah.
Barangkali pula lekas engkau beroleh ibu-bapa, sahabat kenalan
yang baru, sehingga bertambah-tambah lekaslah pula engkau
lupa kepada kami," kata Nurbaya sambil tersenyum dan
memandang kepada Samsu.
"Jika rindumu itu tiada hendak hilang, baiklah kaulipur
hatimu dengan pikiran yang begini, "Aku ada di Jakarta ini untuk
sementara, menuntut pelajaran yang akan memberi kepandaian,
pangkat, dan gaji yang besar kepadaku; oleh sebab itu pikiranku
tak boleh tergoda oleh yang lain. Apabila telah sampai maksudku
itu kelak, tentulah aku segera dapat pulang kembali, bertemu
dengan sekalian yang kucintai."
Ingatlah pantun:
Jika ada sumur di ladang,
tentu boleh menumpang mandi.
Jika ada umurku panjang,
tentu boleh bertemu lagi.
Gunung dan lembah yang tiada dapat bertemu, tetapi
manusia, asal ada hayat di kandung badan, tentulah akan berjumpa
juga. Sedangkan ikan di lautan, asam di daratan, bertemu
dalam kuali," kata Nurbaya dengan bermain-main, karena pada
sangkanya, pura-puralah Samsu berbuat sebagai bersusah hati,
sebab akan pergi ke Jakarta itu.
"Barangkali sangkamu, aku pura-pura berbuat susah, karena
akan pergi ke Jakarta itu," kata Samsu pula, "tetapi sesungguhnyalah
sangat khawatir hatiku meninggalkan...."
Hingga ini Samsu berhenti, sebagai tak berani menyebut
nama orang yang dikhawatirkannya itu.
"Meninggalkan siapa, Sam?" tanya Nurbaya. "Adakah orang
di sini tempat hatimu tersangkut?"
"Meninggalkan engkau, Nur," jawab Samsu, terus terang.
"Aku?" tanya Nurbaya pula, seakan-akan heran.
"Ya," jawab Samsu dengan pendek.
Nurbaya termenung mendengar pengakuan ini, lalu menundukkan
kepalanya ke tanah, sehingga tiadalah dapat dilihat,
bagaimana warna mukanya pada waktu itu.
"Jangan engkau salah sangka, Nur! Dengarlah, apa sebabnya
hatiku khawatir meninggalkan engkau. Telah beberapa hari aku
digoda oleh suatu pikiran yang tak baik," kata Samsu.
"Dari mana datangnya pikiran yang sedemikian?" tanya
Nurbaya pura-pura tersenyum, akan melenyapkan perubahan
mukanya yang menjadi kaca hatinya.
"Bagaimana aku takkan khawatir," sahut Samsu. "Pada
malam Jum'at yang telah lalu, aku bermimpi: rasanya aku mendaki
Gunung Padang ini.
Tatkala sampai ke atas ini, tibalah aku rasanya di kota Jakarta
yang ramai dan besar itu. Di tengah-tengah kota ini adalah
sebuah menara yang tinggi. Seorang tua berkata kepadaku, "Hai
Samsu, jika engkau hendak mencapai maksudmu, naiklah
menara ini."
Tatkala aku hendak menaiki menara ini, tiba-tiba kelihatanlah
olehku, engkau mengikut dari belakang, seorang diri. Oleh
sebab itu kutunggulah engkau, supaya dapat naik bersama-sama.
Tiba-tiba datanglah Engku Datuk Meringgih menghelakan
engkau ke bawah, lalu didukungnya, dibawanya lari. Karena
panas hatiku, kurebutlah engkau dari tangannya, sehingga berkelahilah
aku dengan dia. Oleh sebab ia lebih kuat dari padaku,
dapatlah aku ditangkapnya dan dilontarkannya ke, bawah
gunung ini. Engkau pun, sebab membantah, tiada mengikut
kemauannya dijerumuskannya pula ke bawah. Maka jatuhlah
kita berdua terguling-guling ke kaki gunung ini, masuk ke dalam
suatu lubang yang besar, sehingga tak dapat keluar lagi. Ketika
itu terbangunlah aku dengan sangat terperanjat. Badanku basah
kena keringat. Semalam-malaman itu tiadalah dapat aku tidur
lagi dan sejak waktu itu, mimpi ini tiadalah hendak hilang dari
pikiranku."
"Wahai! Rupanya inilah sebabnya engkau kulihat terkadangkadang
termenung seorang diri," kata Nurbaya. "Tetapi janganlah
engkau terlalu percaya akan mimpi itu, karena mimpi
permainan pikiran, tiada selamanya benar; acap kali bohong, tak
ada takbirnya. Melainkan sejak sekarang marilah kita bersamasama
menadahkan tangan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
untuk memohonkan kepada-Nya supaya mudah-mudahan dipelihara-
Nya juga kita di dalam segala hal," kata Nurbaya pula,
sebagai pelipur hati Samsu. Akan tetapi, meskipun ia berkata
sedemikian, hatinya tiada senang juga, karena sesungguhnya
ganjil mimpi Samsu ini pada rasa hatinya.
Tatkala itu kembalilah Bakhtiar dan Arifin tergopoh-gopoh
dari perburuannya, sebagai ada sesuatu yang dilarikannya.
"Apa yang dapat?" tanya Nurbaya.
"Sst, diam! Jangan ribut!" kata Bakhtiar, sambil menyembunyikan
bedilnya."
"Bakhtiar membedil orang," kata Arifrrt perlahan-lahan.
"Membedil orang?" tanya Samsu dengan terperanjat.
"Ya," jawab Arifin, "tetapi nantilah kuceritakan kepadamu.
Sekarang mari kita pulang lekas-lekas!"
"Makanan itu bagaimana?" tanya Nurbaya.
"Kita makan cepat-cepat dan kemudian kita pulang dengan
segera," jawab Arifin.
Tatkala mereka berkata-kata itu, Bakhtiar menyembunyikan
bedilnya dalam rumput-rumput, kemudian datang hendak makan
bersama-sama. Tetapi walaupun ia sangat lapar, tiadalah dapat
juga makan dengan sepertinya, karena ketakutan. Mukanya
pucat, tangannya gemetar.
Setelah selesai makan lalu Bakhtiar membungkus bedilnya
dengan kelopak lopak pisang, supaya jangan kelihatan dari luar.
Kemudian menurunlah mereka bergesa-gesa.
Tatkala sampai ke pangkal pendakian, berhentilah mereka
sejurus di kedai, untuk melepaskan lelahnya. Tiada lama
kemudian daripada itu, turunlah dua orang serdadu dari atas
gunung ini. Seorang dari padanya jalannya seakan-akan pincang
dan paha kirinya dipegangnya dengan tangannya.
Tatkala Bakhtiar dan Arifin melihat serdadu ini, bersembunyilah
mereka ke dalam kedai tadi. Seketika lagi sampailah
kedua serdadu itu ke muka kedai ini, lalu hendak ber-henti
pula di sana. Yang tiada pincang bertanya, "Masih sakitkah
kakimu? Marilah kita berhenti dahulu di sini."
"Ah, tak usah. Baik kita terus pulang, supaya jangan terlambat
sampai ke tangsi," jawab yang sakit. .
"Siapakah yang telah membedilmu pada sangkamu?"
bertanya pula yang tak sakit.
"Tentulah anak-anak. Jika dapat ia kuputar batang lehernya,"
jawab yang sakit.
Kemudian kedua serdadu itu naik sebuah sampan, lalu
menyeberang sungai Arau.
Setelah sampai mereka ke seberang, barulah Bakhtiar dan
Arifin berani ke luar, lalu barkata, "Itulah dia yang kena bedilku
tadi."
"Bagaimana mulanya maka ia sampai jadi kena? Cobalah
kauceritakan!" tanya Nurbaya yang agak pucat mukanya.
"Aku hendak membedil burung Merbah yang ada dalam
semak-semak dan ia tiada kelihatan olehku, karena ia berdiri di
balik pohon kayu. Tatkala kubedil burung itu, tiba-tiba
kedengaran olehku suara orang berteriak, "Aduh! Apa ini?
Tolong!" Ketika itulah nyata olehku bahwa seorang daripada
serdadu tadi telah kena bedilku. Dengan segera aku lari
menyembunyikan diri."
"Memang ada-ada saja yang terjadi padamu, Bakhtiar! Belum
hilang takutku, karena engkau diserang kera, sekarang kau
tembak pula orang. Kalau dapat engkau olehnya tadi,
bagaimana!" kata Nurbaya seraya menggeleng-gelengkan
kepalanya.
"Bukan kusengaja, Nur. Kakinya itu kusangka dahan kayu
yang hitam, sebab badannya tersembunyi di balik pokok kayu.
Siapakah yang 'kan dapat menentukannya dari jauh? Tetapi
apanya yang kena, kaulihat tadi, Nur, tatkala ia melintas di sini?"
tanya Bakhtiar.
"Paha belakangnya yang sebelah kiri," jawab Nurbaya.
"Rupanya berdarah, lagi sakit; sebab selalu dipegangnya pahanya
itu."
"Marilah kita pulang, sebab hari telah setengah satu. Pak Ali
tentu telah ada dan perutku telah lapar," kata Samsu pula.
Setelah minum air seterup seorang segelas, menyeberanglah
keempat mereka, lalu pulang ke rumahnya masing-masing.
IV. PUTRI RUBIAH DENGAN SAUDARANYA SUTAN
HAMZAH
Pada petang hari Ahad, tatkala Samsu dengan sahabatnya pergi
berjalan-jalan ke Gunung Padang, kelihatan putri Rubiah duduk
di serambi belakang rumahnya, di atas sebuah tikar rumput,
sedang menjahit. Dekat putri itu duduk saudaranya yang bungsu,
Sutan Hamzah, sedang menggulung-gulung rokok daun nipah.
"Bagaimana pikiranmu tentang kakakmu Mahmud,
Hamzah?" tanya putri Rubiah dengan tiada menoleh dari
penjahitannya.
"Pada pikiran hamba, kelakuannya sangat berubah, " jawab
Sutan Hamzah, sambil menoleh kepada saudaranya.
"Pikiranku pun demikian pula. Makin lama makin jarang ia
datang kemari kian hari kian kurang diindahkannya aku dan
Rubiah, serta kaum keluarganya yang lain-lain sebagai takut ia
datang kemari. Katanya karena banyak kerja, dan ia takut kalaukalau
pekerjaannya kurang maju. Benarkah itu?" tanya putri
Rubiah.
"Ah, bohong! Bukannya ia sendiri yang menjadi Penghulu di
Padang ini dan berpangkat tinggi. Apakah sebabnya Penghulu di
lain-lain tiada sebagai dia?" jawab Sutan Hamzah.
"Pikiran yang sedemikian, acap kali timbul pula dalam
hatiku. Memang pangkat itu aku sukai dan harus dijaga benarbenar,
supaya jangan bercacat nama. Tetapi janganlah hendaknya
karena itu, berubah kelakuan adat dan pikiran. Coba kaupikir!
Aku dan Rukiah saudaranya dan kemanakannya yang
perempuan, jadi tanggungannya. Tetapi tiada dijaga, tiada
dikunjung-kunjunginya dan tiada dilihat-lihatnya, apalagi dibelanjainya;
pendeknya tidak diindahkannya. Hanya anak dan
istrinya sahaja yang dijaga dipelihara dan dihiraukannya. Kalau
terjadi apa-apa pada malam atau siang hari atau kami ditimpa
bahaya—sekali disebut seribu kali dijauhkan Allah hendaknya,
bagaimana kami? Akan mati seoranglah agaknya," kata Putri
Rabiah dengan sedih.
"Anaknya itu kabarnya akan dikirimkannya pula ke Jakarta,
Sekolah Jawa. Yang bukan tanggungannya ditanggungnya, yang
tanggungannya sendiri, disia-siakan. Kalau anaknya itu tak ada
mamaknya yang akan memikul beban ini, sudahlah; tolonglah
anak itu sebab kasihan Akan tetapi kewajiban, jangan dilupakan;
bahkan itulah yang patut diingat lebih dahulu."
"Si Samsu ke Jakarta?" tanya Sutan Hamzah dengan takjub
"Ya tiga bulan lagi. Dan dari sana, entah ke mana pula,
barangkali ke negeri Belanda. Hendak dijadikannya apa anaknya
itu, tiada kuketahui," jawab putri Rubiah.
"Akan dijadikannya jenderal, agaknya," sahut Sutan Hamzah
dengan tersenyum.
"Bukankah sekalian itu memakan uang saja? Itulah sebabnya
agaknya, maka tiap-tiap aku minta duit kepadanya, jarang dapat;
biasanya tak ada duit, katanya. Ke manakah gajinya yang
sebanyak itu? Tentulah habis untuk anak dan istrinya saja. Apakah
perlunya anak itu dimajukan sejauh itu? Sekolah Belanda ini
saja telah lebih daripada cukup. Berapa orang yang tiada tahu
bahasa Belanda, tetapi dapat juga mencapai pangkat yang tinggi.
Ayah kita, apa kepandaiannya? Menulis pun hampir tak dapat.
Tetapi mengapakah dapat juga ia menjabat pangkat Tuanku
Bendahara*). Siapakah di antara Penghulu-Penghulu yang ada di
Padang ini, yang pandai bahasa Belanda? Tak ada seorang pun.
Bukankah sekaliannya itu bergantung kepada untung nasib satusatunya
orang? Jika baik untungnya, tak pandai pun, ten¬tu akan
mendapat pangkat juga. Tetapi apabila tak baik nasib, walaupun
melangit kepandaiannya, jatuhnya ke pelimbahan juga."
"Pada pikiran hamba, anak itu tak baik untungnya. Segala
usaha Kakanda Mahmud ini, niscaya akan sia-sia belaka.
Cobalah lihat! Arang habis, besi binasa," jawab Sutan Hamzah,
sambil mengisap sebatang rokok yang dibuatnya.
"Mengapa engkau berkata demikian?" tanya putri Rubiah.
*) Pangkat yang hampir sama dengan patih
di tanah Jawa
"Ada suatu tanda padanya, ia akan mati berdarah dan akan
menjadi musuh kita," jawab Sutan Hamzah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar