yang sedemikian? Tiap-tiap laki-laki yang berbangsa dan berpangkat
tinggi, malu beristri seorang, tetapi engkau malu beristri
banyak. Bukankah sttdah bertukar benar pikiranmu itu? Sudah
lupakah engkau, bahwa engkau seorang yang berbangsa dan
berpangkat tinggi? Malu sangat rasanya aku, bila kuingat
saudaraku, sebagai seorang yang tak laku kepada perempuan,
kepada putri dan Sitti-Sitti Padang ini, walaupun bangsa dan
pangkatnya tinggi," kata putri Rubiah. "Dan bukankah rugi itu?
Tentu saja tak sampai-menyampai belanjamu, bila gajimu saja
yang kauharapkan. Cobalah lihat adikmu! Walaupun tiada
bergaji, tetapi tidak pernah kekurangan uang. Belum tahu ia
kemari dengan tiada memberi aku dan kemanakannya. Wahai,
kasihan Anakku! Celaka benar untungnya. Sudah tiada
diindahkan oleh mamandanya, jodohnya pun tak dapat pula
dicarikannya. Anak orang umur 12 atau 13 tahun, setua-tuanya
umur 14 tahun, telah dikawinkan, tetapi anakku, hampir beruban,
masih perawan juga. Kalau masih hidup ayahnya, tentulah tiada
akan dibiarkannya anaknya sedemikian ini, walaupun akan
digadaikannya kepalanya. Dan aku ini mengapalah sampai
begini nasibku? Berbeda benar dengan untung perempuan yang
lain. Meskipun ada saudaraku yang berpangkat tinggi, tetapi aku
adalah sebagai anak dagang, yang tiada berkaum keluarga. Tiada
diindahkan, tiada dilihat-lihat; belanja dan pakaian pun tak
diberi. Kepada siapakah aku akan meminta lagi, jika tiada
kepadamu, Mahmud?" kata putri Rubiah, sambil menangis
bersedih hati.
Sutan Mahmud yang mulai merah mukanya, karena marah
mendengar umpatan yang sedemikian, hatinya menjadi reda
kembali, tatkala melihat saudaranya menangis.
"Sudahlah Kakanda, jangan menangis lagi! Memang maksud
hamba datang ini hendak membicarakan hal Rukiah."
"Apakah gunanya dibicarakan juga lagi? Menambah sedih
hatiku saja. Kalau engkau tak beruang, masakan ia mau.
Sudahlah, biarlah anakku menjadi perawan tua. Bukan aku saja
yang akan malu, tetapi terlebih-lebih engkau; karena tentulah
orang akan berkata, "Seorang Penghulu tiada sanggup mencarikan
suami kemanakannya!"
"Berapa uang jemputan yang dimintanya?" tanya Sutan
Mahmud pula dengan tiada mengindahkan perkataan saudaranya
itu.
"Sudah beberapa kali kukatakan 300 rupiah*)," jawab
perempuan itu.
"Tak mau ia kurang? 200 atau 250 rupiah misalnya?" tanya
Sutan Mahmud.
"Kalau kepada tukang ikan ia akan dikawinkan, tentu tak
usah menjemput sedikit jua pun. Tetapi engkau tentu maklum,
anakku tak boleh dan tak suka kukawinkan dengan sebarang
orang saja. Apakah jadinya dengan keturunan kita kelak?"
"Baiklah, apa lagi permintaannya?" tanya Sutan Mahmud
dengan sabar.
"Arloji mas dengan rantainya, cincin berlian sebentuk,
pakaian selengkapnya, dengan beberapa helai kain sarung Bugis
dan kain batik Jawa, bendi dengan kudanya," jawab putri
Rubiah.
"Astaga! Dari mana akan hamba peroleh sekaliannya itu?"
kata sutan Mahmud.
*) Harga uang dulu tinggi dari uang sekarang
"Bukankah sudah kukatakan; kalau tak cakap engkau
mengadakan permintaan orang itu, janganlah dibicarakan juga
perkara ini. Apa gunanya engkau menyedihkan hatiku? Laki-laki
lain, aku tak suka."
"Sudahlah, apa boleh buat! Jemputlah dia!" kata Sutan
Mahmud, sambil mengeluh. "Perkara bendi itu gampang; jika tak
ada, boleh ambil bendiku."
"Benar?" tanya putri Rubiah, dan matanya terang kembali
karena mendengar perkataan ini.
"Benar," jawab Sutan Mahmud dengan pendek.
"Di mana engkau dapat uang?" tanya perempuan itu pula.
"Dari Datuk Meringgih," jawab Sutan Mahmud. "Berapa?"
"3000 rupiah," jawab Sutan Mahmud.
"O, kalau sekian, tentu cukup; sebab engkau maklum,
perkakas Rukiah untuk penyambut' suaminya, tentu harus cukup.
Ranjangnya tentulah sekurang-kurangnya tiga lapis kelambunya,
daripada sutera. Dan bantal seraga (bantal tinggi) harus dari
sutera pula, diberi bertekat benang Makau sekaliannya harus
diadakan. Belanja alat yang tujuh hari tujuh malam, dengan
biaya perarakan dan gajah mena*) tidak sedikit."
Tatkala itu datanglah putri Rukiah membawa suatu hidangan,
yang berisi semangkuk kopi dengan kue-kue, ke hadapan Sutan
*) Kendaraan atau usung-usungan untuk
pengantin, bentuknya semacam ikan laut
Mahmud, lalu diletakkannya di atas meja. Kemudian masuklah
ia ke dalam biliknya. Rupanya ia mengerti, bahwa orang tuanya
itu sedang memperbincangkan hal yang tak boleh didengarnya,
sebab ketika ia sampai ke sana, tiba-tiba kedua mereka berhenti
sejurus berkata-kata. Tetapi ada juga didengarnya namanya
disebut. "Barangkali mereka memperbincangkan perkara perkawinanku,"
pikir putri Rukiah dalam hatinya. Tetapi tatkala itu
juga ia berkata dalam hatinya, sebagai hendak melenyapkan
pikiran yang demikian, "Ah, tak layak bagi seorang anak
perawan, memikirkan hal ini."
"Jadi bilakah maksud Kakanda hendak melangsungkan
pekerjaan itu?" tanya Sutan Mahmud, tatkala putri Rukiah tak
ada lagi, sambil mengangkat mangkuk kopinya.
"Kehendak hatiku selekas-lekasnya," jawab putri Rubiah.
"Tetapi engkau tentu maklum, pekerjaan ini tak dapat diburuburukan.
Tiga bulan lagi, barulah dapat pada sangkaku, karena
tentulah aku harus bersedia-sedia lebih dahulu. Pakaian Rukiah
belum ada dan pakaian penerimaan Sutan Mansyur, yang bakal
menjadi suaminya itu pun belum cukup. Perkakas ranjang dan
bantal-bantal seraga pun belum disediakan, demikian pula kuekue.
Lagi pula tentulah sekalian kaum keluarga sahabat kenalan
kita yang dekat dan yang jauh, harus diberi tahu lebih dahulu."
"Kepada sanak saudara yang jauh jauh, boleh hamba tulis
surat, tetapi kepada yang dekat-dekat biarlah si Hamzah saja
memberitahukan," kata Sutan Mahmud.
Belum sampai habis diminum kopi itu oleh Penghulu Sutan
Mahmud, tiba-tiba kedengaranlah dari jauh katuk-katuk berbunyi,
alamat ada orang mengamuk. Sutan Mahmud segera
mengangkat kepalanya, akan mendengarkan benar-benar bunyi
itu. Katuk-katuk itu makin lama makin keras dan makin cepat
bunyinya, dan sejurus kemudian disahutinya oleh katuk-katuk
rumah jaga yang dekat dari sana.
"Orang mengamuk!" kata Sutan Mahmud, sambil berdiri
hendak pergi ke luar.
"Ya," kata putri Rubiah dengan gemetar suaranya, "tetapi
janganlah kaupergi ke sana."
"Mesti," jawab Sutan Mahmud, "barangkali dalam daerah
hamba." Tatkala itu juga putri Rukiah keluar dan dalam biliknya,
lalu pergi kepada mamandanya, sarnbil memegang tangan Sutan
Mahmud, dan berkata dengan gemetar dan pucat mukanya,
"Jangan Mamanda pergi! Hamba sangat takut, kalau-kalau orang
itu masuk ke dalam rumah ini."
"Ah, barangkali di kampung Jawa atau di Olo; bukan di
kampung ini," sahut Sutan Mahmud akan menghilangkan takut
kemanakannya.
"Tetapi janganlah pergi! Sebab di sini tak ada laki-laki. Si
Lasa sakit dan si Hamzah tak ada," kata putri Rubiah pula.
Sutan Mahmud terdiri sejurus, tak tahu apa yang akan
diperbuatnya. Pergilah ia menjalankan kewajibannya atau
tinggalkan menjaga saudaranya dan kemanakannya.
"Ke mana si Hamzah?" tanyanya, setelah berdiam seketika.
"Entahlah," jawab saudaranya, "jangan jangan ia yang mendapat
bahaya."
Ketika itu kedengaran suara orang cepat-cepat naik tangga
rumah. Kedua perempuan ini makin bertambah-tambah takut,
lalu datang menghampiri Sutan Mahmud dan berdiri di
belakangnya.
"Siapa itu?" tanya putri Rubiah kepada Sutan Mahmud.
"Ah, barangkali si Ali akan memberitahukan hal ini," jawab
Sutan Mahmud.
"Engkau Ali?" tanyanya. Tiada beroleh jawaban.
Tiada lama kemudian daripada itu berdiri seorang-orang
muda di hadapan mereka, yang rupanya hampir serupa dengan
Sutan Mahmud. Hanya umurnya lebih muda. Anak muda ini
memakai baju putih berkerawang, kain Palembang, selop hitam,
topi sutera hitam yang miring letaknya di atas kepalanya.
Bibirnya merah sebagai baru makan sirih. Di kocek bajunya tergantung
rantai arloji naga-naga, yang terbuat daripada mas. Buah
bajunya pun dari mas pula. Pada jari manisnya kelihatan sebentuk
cincin yang bermata intan. Menurut wajah mukanya,
kecil badannya, bangsa dan mampu, yang dari kecilnya belum
pernah merasai kesengsaraan dan kesusahan. Oleh sebab itu
tiadalah lain yang diketahuinya, melainkan bersuka-suka dan
bersenang-senangan. Perkara yang akan datang dan hal yang
telah lalu tiadalah pernah dipikirkannya.
Apabila ada uangnya 100 rupiah, sehari itu juga dihabiskannya,
diboroskannya atau diperjudikannya. Jika tak beruang, dijual
atau digadaikannya segala barang yang ada padanya. Itulah
sebabnya maka kehidupannya tak tentu; terkadang-kadang ada ia
beruang, terkadang-kadang tak ada. Akan tetapi sebab ia seorang
yang "pandai hidup", sebagai kata peribahasa Melayu, selalulah
rupanya seperti orang yang tak pernah kekurangan.
"Ha, untung engkau datang, Hamzah! Kalau tidak, tak tahu
aku apa yang akan diperbuat waktu ini. Tetapi dari mana
engkau?" tanya Sutan Mahmud.
"Dari tanah lapang, hendak kemari. Tatkala sampai ke rumah
jaga, di ujung jalan ini, kedengaran oleh hamba bunyi katukkatuk;
sebab itu hamba berlari-lari kemari."
"Di mana orang mengamuk?" tanya Sutan Mahmud.
"Entah! Orang jaga pun tak tahu pula," jawab Sutan Hamzah.
"Baiklah, tinggallah engkau di sini, sebab aku hendak pergi
memeriksa pengamukan ini."
"Ah jangan, Mahmud! Biarlah mereka berbunuh-bunuhan di
sana. Apa pedulimu?" kata putri Rubiah.
"Tak boleh demikian. Seorang Kepala Negeri harus
mengetahui dan memeriksa hal ini; lebih-lebih kalau
pengamukan itu terjadi dalam kampung pegangan hamba," jawab
Sutan Mahmud.
"Lebih sayangkah kepada pangkatmu daripada kepada
jiwamu?" tanya putri Rubiah pula.
"Ah, jangan kuatir! Belum tentu hamba mati."
"Kalau di dalam pegangan Kakanda terjadi pengamukan itu,
sedang Kakanda tak ada, tentulah Kakanda dapat nama kurang
baik," kata Sutan Hamzah mencampuri percakapan ini.
Oleh sebab tiada tertahan rupanya oleh putri Rubiah maksud
saudaranya ini, berkatalah ia, "Baiklah, tetapi hati-hati menjaga
diri! Pangkat dapat dicari, tetapi nyawa tak dapat disambung dan
bawalah keris pusaka Ayah itu besar tuahnya."
"Baiklah," jawab Sutan Mahmud, "mana dia?"
"Tunggu!" kata. utri Rubiah, lalu masuk ke biliknya.
Sebentar lagi keluarlah putri Rubiah membawa sebilah keris
tua, yang dibungkus dengan kain putih, lalu diberikannya kepada
Sutan Mahmud: "Hamzah, tutuplah pintu dan tinggallah engkau
di sini! Jaga rumah baik-baik!"
Sambil berkata demikian, Sutan Mahmud pun keluarlah, lalu
turun dan melompat naik bendinya, yang berangkat waktu itu
juga.
III. BERJALAN-JALAN KE GUNUNG PADANG
Pada keesokan harinya, pukul lima pagi. Samsulbahri terperanjat
bangun dari tidurnya, karena mendengar bunyi lonceng jam yang
ada di rumahnya, lima kali memukul. Dengan segera diangkatnya
kepalanya lalu menoleh ke celah-celah dinding biliknya,
akan melihat, sudah adakah cahaya matahari yang masuk ke
dalam rumahnya atau belum. Rupanya ia takut kesiangan. Akan
tetapi walaupun ia menoleh ke sana kemari dan mendengar hatihati,
kalau-kalau ada suara orang, tiadalah lain yang dilihatnya
daripada sinar lampu biliknya sendiri. Sekaliannya masih sunyi
senyap; orang yang telah , meninggalkan tempat tidurnya, belum
ada. Hanya dari jauh kedengaran olehnya kokok ayam jantan
bersahut-sahutan di segala pihak, sebagai orang bersorak berganti-
ganti, karena berbesar hati menyambut kedatangan fajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar