Senin, 15 April 2013

PART 6


Dari sebelah timur, kedengaran bunyi puput kereta api di
setasiun Padang sekali-sekali, sebagai hendak memberi ingat
kepada mereka yang hendak menumpang dan berangkat pagipagi.
Dari sebelah barat kedengaran ombak yang memecah di
tepi pantai, sebagai guruh pagi hari, yang menyatakan hari akan
hujan sehingga kecillah hati Samsu mendengar bunyi ini, takut
kalau-kalau maksudnya, akan bermain-main ke gunung Padang,
tiada dapat disampaikannya. Dari surau yang dekat di sana,
kedengaran orang bang, memberi ingat kepada sekalian yang
hendak berbuat ibadat kepada Allah subhanahu wataala, bahwa
subuh telah ada.
Oleh sebab nyata oleh Samsu, bahwa hari baru pukul lima
pagi, direbahkannyalah kembali badannya ke atas tilamnya;
bukannya hendak tidur pula, melainkan sekadar berbaringbaring,
menunggu hari siang. Akan tetapi ia gelisah, karena
pikirannya telah digoda oleh kenang-kenangan akan pergi
bersuka-sukaan itu. Sebentar-bentar berbaliklah ia ke kanan dan
ke kiri, sebagai berduri tempat tidurnya. Akhirnya, karena tak
dapat menahan hati, bangunlah ia dari tempat tidurnya, lalu
dibukanya pintu biliknya perlahan-lahan, karena kuatir kalaukalau
ayahnya yang sedang tidur, terbangun pula.
Tatkala sampailah ia ke luar, kelihatan olehnya cuaca amat
terang, bukan karena sinar matahari, melainkan karena cahaya
bulan, yang hampir tenggelam di sebelah barat. Di langit banyak
bintang-bintang yang gemerlapan cahayanya, seakan-akan
embun di tengah padang yang luas, mengilat di celah-celah
rumput. Akan tetapi bintang timur, mulai pudar cahayanya,
diliputi cahaya fajar yang telah menyingsing di sebelah timur.
Burung murai mulai berkicau di pokok kayu, lalu terbang ke
tanah akan menangkap ulat-ulat dan cengkerik yang alpa, belum
masuk bersembunyi ke dalam lubangnya.
Burung-burung yang lain pun mulai pula meninggalkan
sarangnya, ke luar mencari mangsanya. Ada yang melompatlompat
dari cabang ke cabang pohon yang segar rupanya,
ditimpa embun pagi. Ada pula yang bersiul dan berbunyi,
sebagai riang menyambut kedatangan cahaya matahari, yang
memberi kehidupan kepada segala makhluk di atas dunia ini.
Dan ada pula yang memberi makan anaknya, rezeki yang
diperolehnya pagi-pagi itu, sehingga ramailah bunyi mencicitcicit
kedengaran dalam sarangnya. Kemudian ada pula yang
bertengger di atas cabang, membersihkan bulunya, sebagai
mandi mencucikan badannya. Kelelawar mengirap ke sana
kemari dengan deras jalannya, mencari tempat yang gelap,
sebagai orang yang takut kesiangan di tengah jalan. Ayam betina
keluar dari kandangnya, sambil memimpin anaknya, berbunyibunyi
memanggil dan mengumpulkan yang ketinggalan atau
yang pergi ke tempat, lain, takut biji matanya akan sesat di jalan
yang masih gelap. Ayam jantan berlari ke sana kemari memburu
ayam betina, lalu berdiri sejurus, mengangkat kepalanya dan
berkokok dengan tangkasnya, seolah-olah seorang hulubalang
yang sedang mengerahkan laskarnya di medan peperangan. Di
jalan besar mulai kelihatan orang, seorang dua, berjalan tergesagesa,
sebagai ada yang diburunya. Gerobak yang ditarik kerbau
dan lembu atau disorong orang, kedengaran berbunyi gentanya,
sebagai menyatakan hari telah siang. Sesungguhnya di sebelah
timur mulailah tampak cahaya matahari, yang memancar ke sana
kemari menerangi sekalian benda yang ditimpanya.
Samsu pergi ke bilik kusir tuanya Pak Ali, lalu diketuknya
pintu bilik ini sambil bcrkata, "Pak Ali, bangunlah! Hari telah
siang."
Sejurus kemudian terbukalah pintu bilik ini dan kelihatan Pak
Ali mengeluarkan kepalanya dari pintu ini, sambil menggosokgosok
matanya, sebagai hendak menerangkan pemandangannya.
"Pukul berapa sekarang, Engku Muda?" tanya kusir ini.
"Hampir pukul enam," jawab Samsu.
Mendengar jawab ini, keluarlah sais Ali dari biliknya, masuk
ke kandang kudanya akan membersihkan bendi, pakaian kuda,
dan kandangnya. Sementara itu pergilah Samsu mandi ke sumur.
Tatkala ia masuk kembali ke rumahnya, kelihatan olehnya
ayahnya sudah bangun, duduk di kursi malas, serambi belakang.
"Lekas benar engkau bangun pagi ini," kata ayahnya.
"Supaya jangan terlalu kepanasan di jalan, Ayah," jawab
Samsu.
"Jadi juga engkau pergi?" tanya ayahnya pula.
"Jadi, Ayah," sahut Samsu.
"Nurbaya pergi pula?" tanya Sutan Mahmud..
"Pergi, katanya tadi malam," jawab Samsu.
"Hati-hati engkau menjaga anak orang, he!"
"Ya, Ayah," jawab Samsu pula.
"Baiklah," kata Sutan Mahmud, seraya berdiri, lalu turun ke
bawah.
Kira-kira pukul enam lewat seperempat, kelihatanlah
Samsulbahri dengan Nurbaya dalam bendi, yang dikemudikan
sais Ali ke luar pekarangan rumahnya, menuju ke Muara. Di
tengah jalan bertanya Ali kepada Samsu, dengan tiada menoleh
ke belakang, "Terus ke Muara, Engku Muda?"
"Tidak, Pak Ali, ke rumah Arifin dahulu, ke jalan Gereja."
Karena mendengar jawab ini, ditujukan oleh sais Ali bendinya
ke jalan Gereja.
"Nyaris aku kesiangan, Sam," kata Nurbaya dalam bendi itu,
"karena tadi malam aku hampir tak dapat tidur sebab takut
mendengar bunyi katuk-katuk."
"Aku pun ngeri mendengar bunyi tanda bahaya itu, sehingga
pukul dua malam, tatkala ayahku telah datang, barulah aku dapat
tidur. Tetapi pukul lima pagi aku telah terbangun pula," jawab
Samsu.
"Di mana orang mengamuk itu?" tanya Nurbaya.
"Aku pun tak tahu," jawab Samsu. "Katuk-katuk kedengaran
berbunyi pada segenap pihak dan lama pula bunyinya."
Tengah bercakap-cakap demikian, dengan tiada diketahui
mereka, berhentilah bendi itu di hadapan rumah Kopjaksa Sutan
Pamuncak, di Kampung Sebelah. Di muka ini telah berdiri dua
orang anak muda laki-laki, yang umurnya hampir sama dengan
Samsu. Tatkala dilihat mereka bendi Samsu berhenti, lalu
dihampirinya seraya berkata, "Hai! Nurbaya mengikut pula?"
Sebab dilihatnya Nurbaya ada bersama-sama Samsu. "Baiklah!
Lebih banyak orang, lebih girang."
"Mengapa Tiar? Tak bolehkah aku mengikut, sebab aku
perempuan?" kata Nurbaya, sambil tersenyum.
"Ah, masakan tak boleh, Nona," jawab anak muda, yang
dipanggil Tiar oleh Nurbaya. "Aku berkata demikian bukan
karena tak suka bahkan karena suka hatiku, melihat engkau ada
bersama-sama."
"Bohong! Karena ia kuatir tak cukup akan mendapat kue-kue
yang kita bawa," menyela Arifin.
"Baiklah, kalau benar engkau bersuka hati melihat aku
mengikut, niscaya engkau kelak takkan takut memanjat pohon
jambu Keling untuk aku," sahut Nurbaya sambil tersenyum pula
untuk membujuk Bakhtiar, yang mulai merengut mendengar
perkataan Arifin.
"Boleh kaulihat sendiri nanti, mana yang lebih pandai
memanjat, aku atau kera," jawab Bakhtiar dengan bangganya.
"Kalau untuk makan si Tiar memang lebih pandai memanjat
dari kera," mengusik pula Arifin.
Sementara itu kedua anak muda tadi, naiklah ke bendi
Samsu, yang langsung berangkat ke Muara.
Kedua anak muda yang baru kita kenali itu, ialah
Zainularifin, anak Hopjaksa Sutan Pamuncak dan Muhammad
Bakhtiar anak guru kepala sekolah Bumiputra kelas II di
Belakang Tangsi. Keduanya teman sekolah Samsulbahri, yang
tiga bulan lagi akan pergi bersama-sama dengan dia ke Jakarta,
meneruskan pelajarannya; Arifin pada Sekolah Dokter Jawa,
Bakhtiar pada Sekolah Opseter (KWS).
"Pada sangkaku aku terlambat," kata Arifin, setelah ia duduk
dekat Samsu.
"Biarpun engkau terlambat, tentu akan kutunggu juga, sebab
demikian perjanjian kita," jawab Samsu.
"Apa sebabnya engkau akan terlambat?" tanya Nurbaya.
"Sebab aku memang seorang yang suka tidur, apalagi sebab
tadi malam aku tak dapat lekas-lekas tidur," jawab Arifin.
"Mengapa? Ada keramaiankah di rumahmu tadi malam?"
tanya Samsu.
"Ya, memang ada. Keramaian yang amat besar. Sampai
pukul dua belas malam masih jaga aku," jawab Arifin, sambil
menutup mulutnya menahan kuapnya.
"Cobalah lihat, Sam, baik hatinya Arifin ini! Ada keramaian
di rumahnya, tiada dipanggil-panggilnya kita," kata Nurbaya
mengumpat.
"Ah masakan engkau tiada dapat panggilan!" ujar Arifin
pula.
"Benar tidak," jawab Nurbaya.
"Jika demikian, tiada sampailah panggilan itu kepadamu."
"Mengapa tidak?" mendakwa Bakhtiar. "Sebab panggilan itu
dijalankan dengan katuk-katuk."
"Dengan katuk-katuk?" tanya Nurbaya sambil tercengang.
"Macam baru, memanggil orang dengan tanda bahaya."
Mendengar olok-olok Arifin ini Samsu tersenyum. Akan
tetapi Nurbaya belum mengerti sindiran perkataan Arifm itu.
"Tiadakah kaudengar bunyi katuk-katuk tadi malam?" tanya
Arifin pula.
"Betul ada, tetapi pada sangkaku, sebab ada orang
mengamuk," jawab Nurbaya.
"Ya, itulah dia! Bukankah tiap-tiap ada orang mengamuk, di
rumahku ada keramaian besar, sebab orang yang mengamuk,
orang yang diamuk, opas-opas, saksi-saksi, kepala-kepala dan
ketua-ketua kampung dan lain-lainnya, begitu pula orang yang
menonton, sekaliannya datang berkumpul ke rumahku, untuk
memberi selamat kepada kami?" kata Arifin pula seraya tersenyum.
"Ah, itu maksudmu. Kusangka, benar engkau beralat," jawab
Nurbaya kemalu-maluan sebab ia baru merasa telah dipermainkan
oleh Arifin.
"Beralat tidak, tetapi keramaian ada," jawab Arifin sambil
tertawa.
"Memang kau tukang olok-olok; patut jadi alan-alan," jawab
Nurbaya Sambil tertaWa pula.
"Siapa yang mengamuk tadi malam dan di mana ia
mengamuk?" tanya Samsu.
"Siapa yang mengamuk itu tiada kuketahui, tetapi rupanya
sebagai penjahat, kulihat."
"Kaulihat orangnya?" tanya Bakhtiar, mencampuri
percakapan ini. "Tentu, sebab ia dibawa ke rumahku, sebelum
dimasukkan ke dalam penjara," jawab Arifin.
"Cobalah kauceritakan kepada kami, bagaimana asalnya dan
kejadiannya pengamukan itu!" kata Bakhtiar pula.
"O, oleh sebab engkau sekalian minta supaya kuceritakan hal
ini, itulah tandanya engkau sekalian ingin hendak mendengarnya,
bukan? Akan tetapi oleh sebab kita hampir sampai ke
Muara, kutahan keinginan hatimu itu, sampai nanti, kalau kita
telah mendaki, penawar lelah mendaki," kata Arifin.
"Coba lihat, kikirnya Arifin," jawab Bakhtiar yang hendak
membalas dendam pada Arifin. "Sudah tiada dipanggilnya kita,
tatkala ada keramaian di rumahnya, sekarang ditahannya pula
keinginan hati hendak mengetahui keramaian itu. Dimahalkannya
harga barangnya, sebab diketahuinya banyak yang suka
membeli."
"Benar engkau berani? Engkau memang dengan sengaja tiada
kupanggil, sebab aku tahu, engkau lebih suka pergi ke tempat
keramaian yang ada kue-kue, daripada ke tempat keramaian yang
ada darah," jawab Arifin.
Bakhtiar sebagai merengut mendengar sindiran sahabatnya
ini.
"Pada sangkaku lebih baik Arifin menjadi seorang saudagar
daripada menjadi seorang dokter, karena saudagar memang
demikian adatnya. Apabila diketahuinya, orang suka kepada
barang perniagaan, ditahannya barang itu dan dinaikkannya
harganya," kata Samsu. Akan tetapi tatkala itu juga ia merasa
menyesal, telah mengeluarkan perkataan itu, takut kalau-kalau
Nurbaya menjadi gusar kepadanya. Dengan sudut matanya
dikerlingnya Nurbaya, yang duduk di sisinya, tetapi rupanya
gadis ini tiada mendengar celaan itu, karena ia sedang asyik
melihat beberapa perahu kail, yang baru masuk ke muara sungai
Arau.
Sesungguhnya keempat anak muda itu telah sampai ke dekat
sebuah rumah jaga di Muara. Di belakang rumah jaga ini
kelihatan beberapa kuda tambang, sedang dimandikan oleh
kusirnya di pinggir pantai, tempat sungai Arau bermuara ke laut.
Dekat tempat mandi kuda ini adalah sebuah pangkalan, yang
menganjur sampai ke tepi sungai, tempat berlabuh kapal-kapal
api kecil, yang berlayar ke Terusan. Di sebelah pangkalan ini,
berlabuh beberapa perahu kail, yang baru datang dari lapt
membawa ikan-ikan, yang dapat dikailnya pada malam itu. Di
muka pangkalan ini, adalah sebuah rumah tempat pengailpengail
menjual ikannya, dan di sebelah baratnya menjulang
gunung Padang, sebagai kepala seekor ular Naga yang timbul
dari dalam laut. Yang menjadi leher Naga ini ialah bagian yang
rendah, tempat orang naik mendaki gunung Padang. Makin ke
selatan makin bertambah besar gunung ini; itulah badan ular
Naga yang membelok ke timur, diiringkan oleh sungai Arau,
yang mengalir di kakinya.
Di sebelah selatan pangkalan yang diperkatakan tadi, adalah
kantor bea perahu-perahu yang masuk sungai Arau atau kapalkapal
yang berlabuh di pulau Pisang, pelabuhan kota Padang
dahulu yang sekarang telah dipindahkan ke Teluk Bayur. Sejak
dari kantor bea ini, kelihatan di pinggir sungai Arau, yang
menceraikan gunung Padang dari kota Padang, beberapa perahu
besar dan kapal api kecil; berlabuh berleret-leret, sepanjang tepi
su,ngai, yang ditembok dengan batu. Sejajar dengan tembok ini
adalah jalan kereta api dan jalan besar untuk mengangkut
barang-barang ke kota Padang. Pada sebelah utara jalan ini,
berleretlah beberapa gudang, disambung toko-toko, sampai jauh
ke kampung Cina dan Pasar Gedang.
Tempat ini memang bagian kota Padang yang amat indah;
oleh sebab itu kerap kali dikunjungi oleh mereka yang suka
berjalan jalan pada petang hari, tatkala matahari hampir silam,
untuk mengambil hawa yang baik; karena tempat ini baik
letaknya dan banyak memberi pemandangan yang elok-elok.
Lagi pula tiada terlalu ramai, sehingga mereka yang berjalan
jalan di sana, tiada terganggu oleh lalu-lintas. Hanya pada waktu
hari raya, sampai dua tiga hari sesudah puasa, jalan ini hampir
tiada dapat ditempuh orang yang berjalan kaki, karena berpuluhpuluh
bendi dengan berbuka tenda, berlumba-lumba di sana,
mengadu deras lari kudanya. Itulah suatu kesukaan yang sangat
digemari anak muda-muda kota Padang.
Apabila kembali kita, menurut jalan yang telah diceritakan
tadi, arah ke utara, sampailah kita ke pantai laut Padang.
Sepanjang pesisir pantai ini, kira-kira sepal jauhnya, adalah suatu
taman bunga-bungaan, yang dihiasi oleh beberapa jalan kecilkecil.
Pada beberapa tempat, di bawah pohon ketapang yang
rindang, adalah bangku-bangku tempat berhenti mereka yang
lelah karena perjalanannya. Kira-kira, di.tengah taman ini adalah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar